Kementrans Dorong Tumpang Sari dan Replanting Karet untuk Tambah Cuan Petani
Baca dalam 60 detik
- Wamen Transmigrasi mengidentifikasi tiga hambatan utama produktivitas karet: replanting mandek, pemupukan minim, dan riset terbatas.
- Skema tumpang sari dengan jagung atau kapulaga di sela pohon karet diyakini mampu meningkatkan pendapatan bulanan petani secara signifikan.
- Kementrans berupaya mengoptimalkan Gernas Karet dan memperjuangkan subsidi pupuk agar karet Indonesia bisa bersaing dengan Thailand.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6753895/original/036529200_1779560529-28976.jpg)
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, mendorong petani karet untuk mengadopsi strategi tumpang sari dan peremajaan tanaman guna meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Hal ini disampaikan dalam acara Rembug Tani di Desa Sebuntal, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (23/5/2026).
Viva Yoga menyoroti tiga masalah utama yang membelenggu sektor perkebunan karet nasional: program peremajaan (replanting) yang stagnan, rendahnya intensitas pemupukan, dan ketiadaan riset skala besar untuk meningkatkan hasil panen. Menurutnya, mayoritas pohon karet petani telah berusia di atas 25 tahun sehingga produktivitas lateks menurun drastis.
Untuk mengatasi hal tersebut, Kementrans mengusulkan optimalisasi Gerakan Nasional (Gernas) Karet, yang dirancang untuk membekali petani dengan teknologi modern dan pelatihan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas komoditas dan kontribusinya terhadap devisa negara. Viva Yoga menegaskan bahwa Gernas Karet perlu dihidupkan kembali, seperti yang pernah dilakukan untuk kakao dan kopi.
Selain itu, Kementrans menyiapkan strategi jangka pendek berupa skema tumpang sari. Petani disarankan menanam komoditas pelengkap seperti jagung atau kapulaga di sela-sela pohon karet, disesuaikan dengan kondisi tanah setempat. Langkah ini dinilai mampu memberikan efek domino dalam menambah pendapatan bulanan keluarga petani tanpa harus menunggu hasil replanting yang memakan waktu lebih lama.
"Kami akan melakukan komunikasi dengan seluruh pelaku usaha ekonomi kerakyatan agar mereka berdaya, menjadi subjek pembangunan ekonomi, dan bisa mandiri menentukan nasibnya sendiri," ujar Viva Yoga.
Di sisi lain, Viva Yoga mengakui keterbatasan anggaran pemerintah menyebabkan komoditas karet belum mendapatkan alokasi pupuk subsidi. Meski demikian, ia berkomitmen memperjuangkan hak petani di tingkat pusat agar fasilitas tersebut dapat diperoleh. Ia optimistis bahwa dengan intervensi pupuk, kualitas karet Indonesia mampu menyaingi Thailand, yang saat ini menjadi pemimpin pasar global.
Langkah-langkah ini merupakan bagian dari implementasi program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ekonomi kerakyatan sesuai Pasal 33 UUD 1945. Kementrans berharap kolaborasi lintas sektor—termasuk Kementerian Pertanian, Kementerian PU, dan BRIN—dapat mempercepat transformasi sektor perkebunan karet nasional.



