Ledakan Bom Bunuh Diri di Dekat Rel Kereta Api Pakistan Tewaskan 19 Orang, Puluhan Luka
Baca dalam 60 detik
- Serangan bom bunuh diri di dekat jalur kereta api di Quetta, Pakistan barat daya, menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 70 lainnya pada Minggu (24/5).
- Kelompok separatis Baloch Liberation Army (BLA) mengaku bertanggung jawab, menargetkan kereta yang diduga membawa personel keamanan.
- Insiden ini menyoroti kegagalan pemerintah Pakistan dalam menumpas pemberontakan di provinsi Balochistan yang kaya sumber daya alam.

Sebuah ledakan dahsyat mengguncang kawasan dekat rel kereta api di Quetta, ibu kota Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya, pada Minggu (24/5). Seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan kendaraan yang sarat bahan peledak saat kereta penumpang melintas, menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 70 lainnya, menurut keterangan resmi pemerintah setempat.
Ledakan tersebut menyebabkan dua gerbong kereta terguling dan terbakar, menghasilkan kepulan asap hitam pekat yang terlihat dari jarak jauh. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan dampak kerusakan yang parah, termasuk bangunan di sekitar lokasi yang hancur dan lebih dari belasan kendaraan yang hancur. Otoritas setempat segera memberlakukan status darurat medis di rumah-rumah sakit di Quetta untuk menangani korban luka, dengan 20 di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis.
Kelompok separatis Baloch Liberation Army (BLA) segera mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam pernyataan yang dikirimkan kepada media, BLA menyatakan bahwa sasaran mereka adalah kereta yang membawa personel keamanan. Kelompok ini telah lama memperjuangkan kemerdekaan Balochistan dari pemerintah pusat Pakistan, dan kerap melancarkan serangan terhadap aparat keamanan, instalasi pemerintah, serta warga sipil di provinsi yang kaya akan minyak dan mineral tersebut.
Pemerintah Provinsi Balochistan melalui juru bicaranya, Shahid Rind, mengecam keras aksi tersebut. “Kami sangat mengutuk penargetan warga sipil tak berdosa dan sangat berduka atas hilangnya nyawa manusia. Elemen teroris tidak pantas mendapat keringanan hukuman,” ujarnya. Rind menambahkan bahwa penyelidikan telah diluncurkan untuk mengungkap dalang di balik serangan ini.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengecam serangan itu sebagai “tindakan terorisme pengecut” melalui unggahan di platform X, serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Sementara itu, Kepala Menteri Balochistan Sarfraz Bugti menegaskan komitmennya untuk memburu para pelaku, yang menurutnya menargetkan “warga sipil tak berdosa, termasuk perempuan dan anak-anak.”
Dalam pernyataan terpisah, Bugti dan pemerintah federal di Islamabad kerap menggunakan istilah “Fitna al-Hindustan” untuk merujuk pada BLA, yang mereka tuduh didukung oleh India. Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh New Delhi. Hubungan Pakistan dan India memang telah lama tegang, dengan dua dari tiga perang mereka terjadi akibat sengketa wilayah Kashmir yang diklaim kedua negara.
Meskipun otoritas Pakistan mengklaim telah berhasil meredam pemberontakan di Balochistan, kekerasan terus berlanjut. Pada 2024, sedikitnya 26 orang, termasuk tentara, tewas dalam serangan bom bunuh diri di sebuah stasiun kereta api di provinsi yang sama. Serangan terbaru ini kembali menegaskan bahwa ancaman keamanan di Balochistan masih jauh dari selesai, dan menjadi pengingat pahit bagi pemerintah Pakistan untuk mengevaluasi kembali strategi kontra-pemberontakan mereka.



