Kejatuhan Kelam Salim Group: Dari Rumah Dijarah hingga BCA Diambil Alih
Baca dalam 60 detik
- Kerajaan bisnis Salim Group runtuh saat krisis 1998, dipicu sentimen anti-Soeharto yang menyerang aset dan properti keluarga.
- Bank Central Asia (BCA) mengalami kerugian terbesar dengan 122 cabang rusak dan akhirnya diambil alih pemerintah melalui BPPN.
- Hampir tiga dekade setelah kehancuran, keluarga Salim bangkit kembali dengan kekayaan US$10,6 miliar, dipimpin Anthony Salim.

Krisis moneter 1998 tidak hanya meruntuhkan rezim Orde Baru, tetapi juga menghancurkan kerajaan bisnis keluarga Salim dalam hitungan hari. Rumah mewah pendiri grup, Sudono Salim, dijarah dan dibakar massa, sementara BCA—pilar utama bisnisnya—harus diserahkan kepada negara. Kini, 28 tahun kemudian, Salim Group bangkit kembali dengan portofolio yang jauh lebih luas.
Kedekatan Sudono Salim (Liem Sioe Liong) dengan Presiden Soeharto menjadi fondasi awal pertumbuhan bisnisnya. Sejak Perang Kemerdekaan, Salim memasok logistik untuk pasukan Soeharto, dan hubungan itu berlanjut hingga era pembangunan. Selama tiga dekade, Salim membangun tiga pilar utama: perbankan (BCA), semen (Indocement), dan makanan (Bogasari serta Indofood). Namun, ketika krisis melanda, sentimen anti-Tionghoa dan anti-kroni menjadikan Salim sebagai sasaran utama.
Kerusuhan 13-14 Mei 1998 menjadi puncak kehancuran. Rumah Salim di Roxy diserbu massa bersenjatakan jerigen bensin dan perkakas. Anthony Salim, yang saat itu berada di kantor Wisma Indocement, memerintahkan satpam untuk membiarkan massa masuk demi menghindari pertumpahan darah. Seluruh mobil di garasi dibakar, furnitur dihancurkan, dan tembok dicoret-coret. Anthony kemudian melarikan diri ke Singapura menggunakan jet pribadi dari Bandara Halim.
Setelah kerusuhan mereda, BCA menjadi sektor yang paling terpukul. Selain kerusakan fisik, kepercayaan masyarakat runtuh akibat penarikan dana besar-besaran. Pemerintah akhirnya mengambil alih BCA untuk menyelamatkan sistem perbankan. Salim Group hanya bisa bertahan lewat Indofood, yang kemudian menjadi motor kebangkitan.
"Perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto merupakan sasaran utama pembakaran dan penjarahan. Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama," tulis sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern.
Kini, di bawah kepemimpinan Anthony Salim, grup ini tidak hanya kembali ke sektor makanan, tetapi juga merambah migas, konstruksi, perbankan, dan pusat data. Forbes edisi 2026 menempatkan Anthony Salim dan keluarga di posisi keempat orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$10,6 miliar. Perjalanan ini menjadi pelajaran berharga tentang risiko politik dan pentingnya diversifikasi dalam bisnis.



