Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal dan Drone, 10 Terluka dan Bangunan Rusak Parah
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal dan drone Rusia mengguncang pusat Kyiv sejak Minggu malam hingga Senin pagi, melukai sedikitnya 10 orang dan merusak bangunan di sembilan distrik.
- Presiden Zelenskyy sebelumnya memperingatkan kemungkinan penggunaan rudal hipersonik Oreshnik, yang diklaim Rusia mampu menembus pertahanan udara dan setara dengan serangan nuklir konvensional.
- Serangan ini menandai eskalasi baru dalam perang, dengan Rusia mengandalkan rudal canggih yang sulit diintersepsi dan menimbulkan ancaman besar bagi infrastruktur sipil.

Rusia melancarkan serangan gabungan rudal dan drone ke Kyiv pada Minggu malam hingga Senin pagi, mengguncang pusat kota dan melukai sedikitnya 10 orang. Otoritas setempat melaporkan kerusakan meluas di sembilan distrik, termasuk bangunan pemerintah, sekolah, dan permukiman warga.
Kepala Administrasi Militer Kyiv, Tymur Tkachenko, melalui Telegram menyebutkan bahwa sejumlah bangunan tempat tinggal ikut menjadi sasaran. Di Distrik Shevchenko, sebuah sekolah rusak saat warga berlindung di dalamnya. Wali Kota Vitali Klitschko mengonfirmasi insiden tersebut, sementara supermarket dan gudang di berbagai lokasi juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Serangan ini terjadi setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia berencana menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik, berdasarkan intelijen dari Amerika Serikat dan mitra Barat. Angkatan Udara Ukraina kemudian mengeluarkan peringatan tentang kemungkinan peluncuran Oreshnik, meskipun belum dikonfirmasi apakah rudal tersebut digunakan dalam serangan kali ini.
Oreshnik, yang berarti "pohon hazel" dalam bahasa Rusia, pertama kali digunakan di Dnipro pada November 2024 dan kembali dipakai di wilayah Lviv pada Januari 2025. Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim rudal ini melesat dengan kecepatan Mach 10—sepuluh kali kecepatan suara—dan mampu menghancurkan bunker bawah tanah hingga empat lantai ke bawah. Putin menyebut rudal itu bergerak "seperti meteorit" dan kebal terhadap sistem pertahanan udara mana pun, serta menambahkan bahwa beberapa rudal dengan hulu ledak konvensional pun dapat menimbulkan kehancuran setara serangan nuklir.
Para analis militer menilai penggunaan Oreshnik secara berulang menandakan pergeseran strategi Rusia untuk mengandalkan senjata yang sulit diintersepsi guna melumpuhkan infrastruktur kritis Ukraina. Meskipun klaim Putin mengenai keampuhan rudal tersebut masih diperdebatkan, fakta bahwa Rusia terus mengerahkan sistem persenjataan canggih ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam konflik.
Ke depan, Ukraina dan sekutunya perlu memperkuat sistem pertahanan udara dan mengembangkan taktik untuk menghadapi ancaman rudal hipersonik. Serangan terbaru di Kyiv juga menjadi pengingat bahwa perang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dan warga sipil tetap menjadi korban utama dari pertempuran yang terus berlangsung.



