Negosiasi Ekspor Beras ke Malaysia: Bulog Kejar Harga Optimal di Tengah Surplus Nasional
Baca dalam 60 detik
- Perum Bulog dan delegasi Sarawak telah menyepakati potensi ekspor 500.000 ton beras, dengan negosiasi harga dan skema pengiriman masih berlangsung.
- Pemerintah Indonesia menolak menjual beras di bawah harga yang menguntungkan petani, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
- Keputusan final harga ekspor akan dibahas bersama Menteri Pertanian setelah ibadah haji, memanfaatkan surplus beras nasional sekitar 2 juta ton.

Rencana ekspor beras Indonesia ke Malaysia sebanyak 500.000 ton memasuki tahap krusial. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengonfirmasi bahwa kesepakatan awal telah tercapai dengan delegasi Sarawak, Malaysia, dan saat ini fokus negosiasi beralih ke harga final serta skema distribusi.
Dalam pertemuan di Surabaya, kedua pihak menyepakati kerangka kerja sama, namun harga menjadi titik kritis. Malaysia menawarkan Rp16.000 per kilogram (setara 3,7 Ringgit) untuk beras premium dengan pecahan 5%. Meski demikian, pemerintah Indonesia melalui Bulog menilai angka tersebut masih dapat ditingkatkan demi menjaga keuntungan petani dan negara.
Rizal menegaskan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto melarang penjualan beras dengan harga terlalu rendah. "Kami diperintahkan agar ekspor benar-benar menguntungkan petani, bangsa, dan negara," ujarnya. Harga Rp16.000/kg dinilai "lumayan baik" oleh Bulog, namun masih terbuka peluang negosiasi lebih tinggi.
Untuk mematangkan skema pengiriman, Bulog akan mengirim tim ke Sarawak. Dua opsi distribusi dipertimbangkan: pengiriman port-to-port atau jalur darat dari gudang Pontianak ke Entikong lalu ke Sarawak. Keputusan ini penting untuk efisiensi biaya logistik yang akan mempengaruhi harga akhir.
Keputusan final harga ekspor akan dibahas dengan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, setelah ia kembali dari ibadah haji. Langkah ini menunjukkan koordinasi lintas kementerian dalam kebijakan ekspor pangan.
"Kami tidak menargetkan, namun harapannya harga yang lebih baik dan lebih tinggi, lebih bagus. Sesuai arahan Bapak Presiden, kami akan diskusi dengan Bapak Mentan setelah beliau kembali dari Haji," jelas Rizal.
Menteri Amran sebelumnya mengungkapkan bahwa permintaan 500.000 ton beras dari Malaysia muncul di tengah surplus produksi nasional sekitar 2 juta ton. Ia menyebut Malaysia sebagai mitra dagang yang sudah lama mengimpor jagung dari Indonesia, dan kini beralih ke beras. Pertemuan dengan delegasi Malaysia awalnya direncanakan di Jakarta, namun dialihkan ke Surabaya karena agenda Menteri bersama Bulog.
Ekspor ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan kapasitas swasembada pangan. Dengan surplus yang solid, peluang ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat diplomasi pangan di kawasan. Keberhasilan negosiasi harga akan menjadi indikator utama apakah Indonesia dapat memanfaatkan surplus ini secara optimal tanpa mengorbankan kesejahteraan petani.



