Lemak Tersembunyi di Otot: Ancaman Diam bagi Jantung dan Metabolisme
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 11.000 partisipan tanpa penyakit sebelumnya menemukan bahwa lemak intermuscular berkaitan erat dengan hipertensi, gula darah tidak stabil, dan profil lipid tidak sehat.
- Analisis MRI berbasis AI mengungkap bahwa lemak otot yang tak kasat mata merupakan faktor risiko kardiometabolik yang sering terlewatkan, bahkan pada individu yang tampak sehat.
- Massa otot tanpa lemak terbukti melindungi pria dari risiko tersebut, namun efek perlindungan ini tidak terlihat pada wanita, diduga karena perubahan hormonal saat menopause.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Radiology mengungkap bahwa lemak yang menumpuk di antara serat otot—dikenal sebagai lemak intermuscular—dapat menjadi faktor risiko tersembunyi bagi gangguan jantung dan metabolisme. Penelitian yang melibatkan lebih dari 11.000 orang dewasa tanpa riwayat penyakit ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis komposisi otot dari pemindaian MRI, memberikan gambaran baru tentang bahaya lemak yang tidak terlihat secara kasatmata.
Tim peneliti menemukan bahwa kadar lemak intermuscular yang tinggi dan massa otot yang rendah berkaitan langsung dengan buruknya kesehatan kardiometabolik. Meskipun seluruh partisipan dianggap sehat, data menunjukkan 16,2% memiliki tekanan darah tinggi, 8,5% mengalami ketidakstabilan gula darah, dan 45,9% memiliki profil lipid yang tidak sehat. Setelah memperhitungkan faktor usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik, hubungan antara lemak otot dan risiko hipertensi, disfungsi gula darah, serta kolesterol tidak sehat tetap signifikan.
Menariknya, massa otot tanpa lemak memberikan efek perlindungan terhadap risiko kardiometabolik, tetapi hanya pada pria. Pada wanita, massa otot cenderung stabil hingga usia paruh baya, lalu menurun drastis antara usia 40 hingga 50 tahun. Dr. Cheng-Han Chen, seorang kardiolog intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center, menilai bahwa hormon estrogen mungkin berperan dalam perbedaan ini. "Hasil ini mungkin dipengaruhi oleh efek spesifik estrogen terhadap massa otot dan faktor risiko yang sama," ujarnya.
Temuan ini juga memperkuat pentingnya gaya hidup aktif. Partisipan dengan tingkat aktivitas fisik rendah cenderung memiliki lebih banyak lemak tersembunyi dan massa otot yang lebih sedikit. American Heart Association merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik moderat per minggu, ditambah latihan kekuatan dua kali seminggu untuk menjaga komposisi otot yang sehat.
Para peneliti berpendapat bahwa pemindaian MRI yang sudah lazim digunakan dapat dimanfaatkan untuk menilai komposisi otot tanpa prosedur tambahan, sehingga membantu mengidentifikasi individu yang tampak sehat secara metabolik namun sebenarnya berisiko tinggi. Meski demikian, Dr. Chen mengingatkan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan cara terbaik menggunakan komposisi otot sebagai alat deteksi dini penyakit kardiometabolik.



