Tiga Insiden Penembakan dalam Sebulan: Pria Bersenjata Tewas di Dekat Gedung Putih
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria berusia 21 tahun tewas setelah melepaskan tembakan di pos pemeriksaan keamanan Gedung Putih, menandai insiden ketiga dalam sebulan terakhir di sekitar Presiden Trump.
- Pelaku, Nasire Best, sebelumnya telah ditangkap pada Juli 2025 karena mencoba memasuki pos pemeriksaan tanpa izin dan mengaku sebagai Yesus Kristus.
- Insiden ini memicu kekhawatiran baru tentang keamanan presiden, terutama setelah percobaan pembunuhan di jamuan WHCA dan penembakan di Washington Monument.

Seorang pria bersenjata tewas setelah melepaskan tembakan di dekat pos pemeriksaan keamanan Gedung Putih pada Sabtu malam, menurut pernyataan resmi Dinas Rahasia AS. Insiden ini menjadi yang ketiga kalinya dalam waktu kurang dari sebulan terjadi baku tembak di sekitar Presiden Donald Trump.
Pelaku diidentifikasi sebagai Nasire Best, 21 tahun, yang menurut catatan pengadilan Distrik Columbia pernah ditangkap pada Juli 2025 karena mencoba memasuki pos pemeriksaan lain tanpa izin. Saat itu, Best mengabaikan perintah petugas, mengaku sebagai Yesus Kristus, dan menyatakan ingin ditangkap. Pengadilan kemudian mengeluarkan perintah larangan mendekati (Pretrial Stay Away Order), namun Best tidak mematuhinya sehingga diterbitkan surat perintah penangkapan pada Agustus.
Dalam insiden terbaru, Best menarik senjata dari tasnya sekitar pukul 18.00 waktu setempat di kawasan 17th Street dan Pennsylvania Avenue. Petugas Dinas Rahasia yang berjaga langsung membalas tembakan, melukai Best yang kemudian dinyatakan meninggal di rumah sakit. Seorang warga sipil juga terluka, namun belum jelas apakah terkena tembakan pelaku atau petugas. Dinas Rahasia memastikan tidak ada petugas yang cedera, dan Trump yang berada di Gedung Putih saat itu tidak terpengaruh.
Jurnalis yang bertugas di Gedung Putih melaporkan mendengar rentetan tembakan dan segera berlindung. Video yang direkam koresponden ABC News, Selina Wang, menunjukkan momen ketika ia mendengar suara tembakan dan merunduk. Video tersebut telah ditonton lebih dari 3 juta kali di platform X. Lokasi penembakan tidak jauh dari tempat terjadinya serangan fatal terhadap dua anggota Garda Nasional Virginia Barat pada November lalu, yang menewaskan Spesialis Sarah Beckstrom dan melukai Sersan Staf Andrew Wolfe.
FBI Director Kash Patel menyatakan agennya telah berada di lokasi dan akan memberikan pembaruan segera. Sementara itu, aparat memasang garis polisi kuning dan puluhan penanda barang bukti di sekitar tempat kejadian, serta terlihat perlengkapan medis seperti sarung tangan bedah ungu.
Rangkaian insiden ini menyoroti tantangan keamanan yang dihadapi aparat dalam melindungi presiden di tengah meningkatnya ancaman. Meskipun Dinas Rahasia berhasil menetralisir pelaku, fakta bahwa tiga insiden terjadi dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas prosedur keamanan yang ada. Ke depan, evaluasi menyeluruh terhadap protokol dan koordinasi antarlembaga menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.



