Membedah Mitos dan Fakta Endometriosis: Kondisi Kronis yang Sering Disalahpahami
Baca dalam 60 detik
- Endometriosis adalah penyakit kronis dengan jaringan mirip dinding rahim tumbuh di luar rahim, memengaruhi sekitar 10% wanita usia reproduksi dan sering terlambat didiagnosis.
- Berbagai mitos seperti anggapan bahwa kehamilan atau histerektomi dapat menyembuhkan endometriosis tidak didukung bukti ilmiah; pengobatan hanya bersifat simptomatik.
- Penelitian terbaru menyoroti peran sistem imun dan estrogen dalam perkembangan endometriosis, membuka peluang terapi baru di masa depan.

Endometriosis merupakan kondisi kronis di mana jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim, menyebabkan nyeri haid, nyeri saat berhubungan intim, buang air besar atau kecil, serta gangguan kesuburan. Data global menunjukkan sekitar 10% wanita usia reproduksi mengidap penyakit ini, dan diagnosis sering tertunda karena gejalanya yang sangat bervariasi.
Untuk memisahkan fakta dari mitos, LyndHub merangkum penjelasan dari Dr. Barbara Stegmann, pimpinan klinis Kesehatan Wanita di Organon, dan Carly King, dokter naturopati berlisensi. Keduanya menegaskan bahwa endometriosis tidak memiliki obat, dan banyak kepercayaan populer justru menyesatkan pasien.
β 10% wanita usia reproduksi di dunia menderita endometriosis.
β 30β50% wanita dengan endometriosis mengalami kesulitan hamil.
β Lebih dari 60% pasien melaporkan nyeri panggul kronis.
β Risiko lebih tinggi jika ibu atau saudara kandung mengidap kondisi serupa.
Salah satu mitos yang paling umum adalah bahwa nyeri haid hebat merupakan hal normal. Faktanya, nyeri hebat bisa menjadi indikasi endometriosis. Dr. King menjelaskan, "Beberapa orang memang mengalami nyeri haid berat, tapi itu hanya satu sisi spektrum. Ada yang kram ringan, perdarahan ringan, bahkan nyeri di luar masa haid." Dengan kata lain, tidak semua penderita mengalami gejala yang sama.
Mitos lain yang beredar adalah kehamilan dapat menyembuhkan endometriosis. Dr. Stegmann dengan tegas membantah: "Tidak ada obat untuk endometriosis. Kehamilan memang mengubah kadar hormon, sehingga beberapa wanita merasakan perbaikan, tapi tidak semua. Bahkan ada yang memburuk." Penelitian menunjukkan lesi endometriosis bisa tetap stabil atau bertambah meski wanita hamil.
Histerektomi juga sering dianggap sebagai solusi permanen. Padahal, menurut Dr. King, "Histerektomi bisa meredakan gejala, tapi kondisi bisa kambuh jika masih ada lesi di luar rahim." Dr. Stegmann menambahkan bahwa endometriosis merespons estrogen yang diproduksi ovarium, sehingga pengangkatan rahim saja tidak menyembuhkan. Lesi tipe deep infiltrating endometriosis (DIE) bahkan tidak membaik meski ovarium diangkat.
"Endometriosis tidak selalu berakhir saat menopause. Kondisi ini bisa berkembang bertahun-tahun setelah haid berhenti," ujar Dr. Stegmann.
Fakta lain yang perlu diketahui adalah endometriosis tidak hanya menyerang organ reproduksi. Lesi dapat ditemukan di peritoneum, usus, paru-paru, bahkan otakβmeski jarang. Studi pada tikus tahun 2017 mengindikasikan migrasi sel endometrium ke organ lain mungkin lebih umum dari perkiraan sebelumnya.
Soal kesuburan, 30β50% wanita dengan endometriosis mengalami kesulitan hamil, namun bukan berarti infertilitas mutlak. Dr. King menekankan, "Saya punya pasien dengan endometriosis berat yang hamil, dan yang ringan justru bermasalah. Satu-satunya cara tahu adalah mencoba, dengan pengawasan dokter karena obat endometriosis bisa mencegah kehamilan."
Mitos yang tidak berdasar secara ilmiah adalah klaim bahwa aborsi menyebabkan endometriosis. Dr. Stegmann menegaskan, "Tidak ada hubungan sama sekali antara aborsi dan endometriosis." Penyebab pasti endometriosis masih belum diketahui, namun faktor genetik diduga kuat berperan.
Pengobatan saat ini berfokus pada manajemen gejala. Pil KB tidak menyembuhkan, tetapi membantu menekan ovulasi dan perdarahan. FDA telah menyetujui antagonis GnRH untuk nyeri endometriosis sejak 2018. Penelitian terbaru juga menyoroti peran sistem imun: aktivasi sel darah putih tertentu dapat memicu peradangan kronis yang berkontribusi pada perkembangan penyakit. Terapi yang menargetkan aktivitas imun menjadi harapan baru di masa depan.
Kesadaran akan fakta medis yang benar sangat penting agar pasien tidak terjebak mitos dan mendapatkan penanganan tepat. Konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional tetap menjadi langkah pertama yang krusial.



