Trump Klaim Kesepakatan dengan Iran Hampir Final, Selat Hormuz Dibuka Kembali
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian damai dengan Iran, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, telah hampir selesai dirundingkan.
- Mediasi yang dipimpin Pakistan menunjukkan optimisme, namun masih ada potensi hambatan di menit-menit terakhir yang bisa menggagalkan kesepakatan.
- Kesepakatan ini tidak mencakup program nuklir Iran, yang akan dibahas dalam negosiasi dua bulan ke depan setelah gencatan senjata diresmikan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (24/5) mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran terkait penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz telah "sebagian besar dirundingkan". Pernyataan ini muncul setelah serangkaian panggilan telepon dengan Israel dan sejumlah sekutu di kawasan Timur Tengah.
Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut bahwa "aspek dan detail akhir dari Kesepakatan saat ini sedang dibahas dan akan segera diumumkan". Ia mengaku telah berbicara dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Bahrain, dan secara terpisah dengan Israel. Trump menggambarkan dokumen tersebut sebagai "Nota Kesepahaman tentang PERDAMAIAN" yang masih harus difinalisasi oleh AS, Iran, dan negara-negara lain yang terlibat.
Pengumuman ini menutup pekan yang menegangkan, di mana AS sempat mempertimbangkan serangan baru terhadap Iran yang dapat memutus gencatan senjata yang rapuh. Namun, Trump mengaku menahan diri karena "negosiasi serius" sedang berlangsung, atas permintaan sekutu-sekutu di Timur Tengah.
Seorang pejabat regional yang mengetahui langsung upaya mediasi Pakistan mengonfirmasi bahwa AS dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim, memperingatkan bahwa "perselisihan menit-menit terakhir" masih bisa menggagalkan upaya ini. Ini bukan pertama kalinya dalam beberapa pekan terakhir kesepakatan diklaim hampir tercapai.
Menurut pejabat itu, kesepakatan akan mencakup deklarasi resmi penghentian perang, negosiasi dua bulan mengenai program nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sementara itu, Iran telah memberi sinyal "perbedaan yang menyempit" setelah Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, mengadakan pembicaraan lebih lanjut di Teheran.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Minggu (25/5) menyambut baik upaya Trump untuk memajukan perdamaian di Timur Tengah. Dalam unggahan di X, Sharif memuji "upaya luar biasa" Trump dan menyebut diskusi antarpemimpin kawasan sebagai "sangat berguna dan produktif". Ia juga menyatakan harapan untuk menjadi tuan rumah putaran perundingan berikutnya.
Konflik yang telah berlangsung selama 12 pekan ini dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran termasuk pemimpin tertingginya. Iran kemudian membalas dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara-negara tetangga yang menjadi pangkalan pasukan AS, mengguncang negara-negara Teluk yang sebelumnya dianggap sebagai zona aman. Gencatan senjata mulai berlaku pada 7 April, namun penutupan Selat Hormuz oleh Iran terus menjadi sumber ketegangan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menggambarkan draf kesepakatan sebagai "kerangka kerja" yang akan membahas isu-isu utama untuk mengakhiri perang. Ia menambahkan bahwa rincian akan dibahas dalam 30 hingga 60 hari ke depan. Namun, Baghaei menegaskan bahwa masalah nuklir tidak termasuk dalam negosiasi saat ini. "Fokus kami pada tahap ini adalah mengakhiri perang di semua lini, termasuk Lebanon," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pencabutan sanksi terhadap Teheran "secara eksplisit telah dimasukkan dalam teks dan tetap menjadi posisi tetap kami."
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang menjadi negosiator utama dalam pembicaraan tatap muka bersejarah dengan AS di Islamabad bulan lalu, menyatakan bahwa Iran telah membangun kembali aset militernya. Ia memperingatkan bahwa jika Trump melanjutkan serangan, hasilnya akan "lebih menghancurkan dan lebih pahit" daripada awal perang.
Meskipun optimisme meningkat, sejumlah analis mencatat bahwa tujuan perang yang dicanangkan belum tercapai. Iran masih memiliki uranium yang diperkaya dan program rudal yang diklaim sedang dibangun kembali. Negara itu juga terus mendukung proksi-proksi bersenjata di kawasan. Pemimpin tertinggi baru Iran, meskipun belum muncul di publik sejak perang dimulai, adalah putra dari pemimpin sebelumnya dan dekat dengan Garda Revolusi yang kuat. Rakyat Iran juga belum memberontak terhadap pemerintah seperti yang diprediksi Trump dan Netanyahu setelah protes nasional awal tahun ini.
Ke depan, keberhasilan kesepakatan ini akan sangat bergantung pada kemampuan para pihak untuk mengatasi perbedaan yang tersisa, terutama terkait program nuklir dan masa depan proksi Iran. Meskipun ada kemajuan, sejarah menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian di kawasan ini sering kali penuh dengan hambatan yang tak terduga.



