Imunoterapi Praoperasi Buka Jalan Baru Penanganan Kanker Usus Besar Subtipe Spesifik
Baca dalam 60 detik
- Pemberian imunoterapi pembrolizumab selama sembilan minggu sebelum operasi pada pasien kanker usus besar dengan profil genetik MMR-deficient/MSI-high menunjukkan 59% pasien bebas kanker setelah prosedur.
- Dalam masa pemantauan rata-rata 33 bulan, tidak satu pun dari 32 partisipan mengalami kekambuhan, angka yang jauh lebih baik dibandingkan standar perawatan konvensional.
- Temuan ini berpotensi menggeser paradigma terapi dari kemoterapi pascaoperasi menjadi imunoterapi praoperasi yang lebih terarah, meski masih memerlukan validasi dari uji klinis skala lebih besar.

Kanker kolorektal, yang mencakup kanker usus besar dan rektum, menempati peringkat ketiga sebagai jenis kanker paling umum di dunia dan penyebab kematian kedua akibat kanker secara global. Dari total kasus, sekitar 10 hingga 15 persen pasien stadium 2 dan 3 memiliki profil genetik MMR-deficient/MSI-high, suatu subtipe yang diketahui kurang responsif terhadap kemoterapi konvensional.
Sebuah uji klinis fase II yang dipimpin oleh peneliti dari University College London (UCL) menguji pendekatan baru: pemberian imunoterapi pembrolizumab sebelum operasi. Dalam studi bertajuk NEOPRISM-CRC, sebanyak 32 partisipan dengan kanker usus besar stadium 2 atau 3 dan profil genetik tersebut menerima imunoterapi selama sembilan minggu, lalu menjalani operasi pengangkatan tumor. Hasil awal menunjukkan bahwa 59 persen pasien tidak memiliki tanda-tanda kanker setelah rangkaian terapi, dan dalam masa follow-up rata-rata 33 bulan, tidak satu pun dari mereka mengalami kekambuhan.
Marnix Jansen, pemimpin riset translasional dari UCL Cancer Institute, menjelaskan bahwa imunoterapi bekerja dengan memanfaatkan sistem imun untuk mengenali dan menyerang sel kanker. Tumor dengan profil MMR-deficient/MSI-high menghasilkan protein abnormal (neoantigen) yang membuatnya sangat terlihat oleh sistem kekebalan, namun biasanya tumor ini memanfaatkan mekanisme immune checkpoint untuk menghindari serangan. Pembrolizumab, sebagai checkpoint inhibitor, mampu memblokir mekanisme tersebut dan mengaktifkan respons imun secara optimal.
“Sebelum operasi, tumor masih utuh, sehingga sistem imun dapat ‘melihat’ banyak material kanker. Imunoterapi dapat melatih dan memperkuat respons anti-kanker saat tumor dan lingkungan imun lokal masih utuh,” ujar Jansen.
Selain itu, tim peneliti menggunakan tes darah personal untuk melacak DNA tumor dalam aliran darah. Ketika DNA tumor menghilang dari darah setelah imunoterapi, hal itu berkorelasi kuat dengan tidak adanya sisa kanker. Alat ini dinilai potensial untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang merespons baik dan mungkin memerlukan terapi tambahan yang lebih ringan, serta mereka yang berisiko tinggi sehingga perlu pemantauan lebih ketat.
Meskipun hasil ini menjanjikan, Jansen mengingatkan bahwa NEOPRISM-CRC masih dalam tahap fase II dengan target rekrutmen 78 pasien. Titik akhir utama penelitian adalah kelangsungan hidup bebas kekambuhan dalam tiga tahun. Oleh karena itu, data dari uji coba yang lebih besar dan jangka panjang sangat diperlukan sebelum pendekatan ini dapat diterapkan secara luas sebagai standar perawatan.
Kendati demikian, temuan ini membuka peluang pergeseran paradigma dari kemoterapi pascaoperasi menuju imunoterapi praoperasi yang lebih terarah berdasarkan biomarker. Jika terbukti dalam studi lanjutan, strategi ini tidak hanya berpotensi menekan angka kekambuhan, tetapi juga mengurangi beban efek samping kemoterapi dan bahkan, pada beberapa kasus, mengurangi kebutuhan operasi itu sendiri.



