Kota Meksiko Ambles 25 cm per Tahun, Terlihat dari Luar Angkasa
Baca dalam 60 detik
- Data satelit NISAR NASA mengungkap Kota Meksiko tenggelam hingga 25 cm per tahun, menjadikannya salah satu kota dengan penurunan tanah tercepat di dunia.
- Pemompaan air tanah berlebihan dan pembangunan perkotaan mengeringkan akuifer, menyebabkan kerusakan infrastruktur kritis seperti sistem kereta bawah tanah dan drainase.
- Teknologi pemantauan dari luar angkasa diharapkan membantu pemerintah merancang mitigasi jangka panjang, termasuk peringatan dini bencana alam global.

Kota Meksiko, salah satu metropolis terpadat di dunia dengan populasi 22 juta jiwa, mengalami penurunan tanah dramatis hingga 25 sentimeter per tahun berdasarkan data citra satelit terbaru NASA. Fenomena ini menjadikan ibu kota Meksiko sebagai salah satu kawasan perkotaan dengan laju amblesan tercepat di planet ini, bahkan dapat diamati langsung dari orbit Bumi.
Kota yang membentang seluas 7.800 kilometer persegi ini dibangun di atas dasar danau purba. Sebagian besar jalan pusat kota dulunya merupakan kanal, tradisi yang masih bertahan di pinggiran pedesaan. Eksploitasi air tanah secara masif dan pembangunan yang tak terkendali telah mengeringkan akuifer, menyebabkan tanah terus menyusut selama lebih dari satu abad. Akibatnya, monumen bersejarah seperti Katedral Metropolitan yang mulai dibangun pada 1573 kini tampak miring, sementara infrastruktur vital seperti sistem kereta bawah tanah, drainase, dan perpipaan air bersih mengalami kerusakan parah.
Peneliti Enrique Cabral menegaskan bahwa masalah ini sangat serius karena merusak infrastruktur kritis kota. "Ini merusak bagian dari infrastruktur kritis Kota Meksiko, seperti kereta bawah tanah, sistem drainase, sistem air minum, perumahan, dan jalan-jalan. Ini masalah yang sangat besar," ujarnya. Pemerintah selama puluhan tahun cenderung mengabaikan persoalan ini selain melakukan stabilisasi fondasi pada monumen seperti katedral. Namun, krisis air yang semakin memanas belakangan ini mendorong alokasi dana riset yang lebih besar.
Data NASA diperoleh melalui satelit NISAR, proyek bersama NASA dan Organisasi Riset Luar Angkasa India, yang melakukan pengukuran antara Oktober 2025 dan Januari 2026. Satelit ini mampu melacak perubahan permukaan Bumi secara real-time. Ilmuwan NISAR Paul Rosen menjelaskan bahwa teknologi ini tidak hanya mendokumentasikan perubahan di permukaan, tetapi juga memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di bawah tanah. "Anda bisa melihat besarnya masalah secara utuh," kata Rosen.
Ke depan, tim peneliti berharap dapat memperoleh data hingga level bangunan per bangunan. Lebih luas lagi, teknologi ini berpotensi digunakan untuk memantau bencana alam, perubahan garis patahan, dampak perubahan iklim di Antartika, dan memperkuat sistem peringatan dini letusan gunung berapi. Bagi Kota Meksiko, pemahaman mendalam melalui citra satelit menjadi langkah awal yang krusial. "Untuk melakukan mitigasi jangka panjang, langkah pertama adalah memahami," pungkas Cabral.



