Migrain dengan Aura Tingkatkan Risiko Stroke Iskemik pada Lansia, Temuan Studi Terbaru
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap lebih dari 11.000 partisipan berusia rata-rata 72 tahun mengungkap migrain dengan aura meningkatkan risiko stroke iskemik hingga 73%.
- Pria di bawah 72 tahun dengan migrain, baik dengan atau tanpa aura, memiliki risiko stroke lebih dari 3,5 kali lipat, temuan yang mengejutkan para peneliti.
- Para ahli menekankan migrain dengan aura harus dianggap sebagai penanda risiko serebrovaskular, bukan sekadar gangguan sakit kepala.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Neurology Open Access mengungkapkan bahwa migrain dengan aura secara signifikan meningkatkan risiko stroke iskemik pada orang dewasa paruh baya dan lanjut usia. Penelitian yang melibatkan 11.381 partisipan dari studi REGARDS ini menyoroti pentingnya membedakan jenis migrain dalam penilaian risiko kardiovaskular.
Tim peneliti menemukan bahwa partisipan yang mengalami migrain dengan aura memiliki risiko stroke iskemik 1,5 hingga 1,9 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami migrain. Temuan ini tetap signifikan bahkan setelah memperhitungkan faktor risiko kardiovaskular tradisional. Menariknya, migrain tanpa aura tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan peningkatan risiko stroke.
Analisis eksplorasi mengungkap temuan mengejutkan: pria berusia di bawah 72 tahun yang mengalami migrain—baik dengan maupun tanpa aura—memiliki risiko stroke iskemik lebih dari 3,5 kali lipat. Hal ini bertolak belakang dengan literatur sebelumnya yang lebih menyoroti risiko pada wanita muda. Dr. Walavan Sivakumar, seorang neurosurgeon yang tidak terlibat dalam penelitian, menyebut temuan ini "kontraintuitif dan memerlukan tindak lanjut serius."
"Studi ini memperkuat bahwa migrain dengan aura tidak boleh dianggap sekadar gangguan sakit kepala—ia adalah penanda risiko serebrovaskular yang layak mendapat tempat dalam percakapan stratifikasi risiko klinis kita." — Dr. Walavan Sivakumar
Meskipun memberikan wawasan berharga, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Diagnosis migrain dan status aura didasarkan pada laporan mandiri partisipan, bukan kriteria diagnostik resmi International Headache Society. Selain itu, data mengenai frekuensi serangan, tingkat keparahan, dan riwayat pengobatan tidak tersedia. Dr. Reza Bavarsad Shahripour dari UCSD Stroke Center mencatat bahwa meskipun peningkatan risiko relatif signifikan, angka kejadian absolut tetap relatif kecil—4,7% pada migrain dengan aura dibandingkan 3,4% pada tanpa migrain.
Para peneliti juga mengingatkan potensi bias karena eksklusi wanita muda dengan migrain yang sudah pernah mengalami stroke, serta kemungkinan misklasifikasi akibat gejala penglihatan kabur yang bisa tumpang tindih dengan aura. Studi ini hanya melibatkan partisipan kulit putih dan kulit hitam, sehingga belum dapat digeneralisasi ke populasi lain.
Kendati demikian, temuan ini membuka jalan bagi integrasi riwayat migrain, khususnya aura, ke dalam alat penilaian risiko kardiovaskular. Dr. Sivakumar menyarankan agar dokter primer dan neurologis secara aktif menanyakan status aura pada pasien migrain dan mendokumentasikannya. Jika temuan pada pria di bawah 72 tahun dapat direplikasi, hal ini dapat mengubah pendekatan konseling pencegahan stroke pada kelompok demografis tersebut, termasuk manajemen agresif faktor risiko seperti hipertensi, dislipidemia, dan merokok.



