Bangunan 9 Lantai Runtuh di Filipina, 21 Pekerja Hilang
Baca dalam 60 detik
- Sebuah gedung bertingkat sembilan yang masih dalam tahap konstruksi ambruk di Angeles City, Filipina, setelah badai petir hebat, menyebabkan 21 orang dinyatakan hilang.
- Tim penyelamat mendeteksi tanda-tanda kehidupan di antara reruntuhan, sementara 24 pekerja berhasil menyelamatkan diri; belum ada korban jiwa yang dilaporkan.
- Peristiwa ini menyoroti risiko keselamatan konstruksi di kawasan bekas pangkalan militer AS yang kini berkembang pesat sebagai pusat komersial.

Sebuah bangunan sembilan lantai yang tengah dibangun di Angeles City, Provinsi Pampanga, Filipina, runtuh pada Minggu dini hari setelah diterjang badai petir dahsyat. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 21 orang masih hilang dan dikhawatirkan terjebak di bawah puing-puing.
Menurut Brigadir Jenderal Polisi Jess Mendez, lebih dari 100 personel gabungan dari kepolisian, pemadam kebakaran, dan tim penanggulangan bencana dikerahkan untuk mencari korban. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa, namun beberapa pekerja yang berhasil keluar mengalami luka-luka. Dua orang lainnya, termasuk seorang turis asal Malaysia, terluka akibat tertimpa serpihan bangunan.
Kepala Kantor Mitigasi Bencana Angeles City, Francis Pangilinan, menyatakan bahwa sebagian besar korban hilang diduga merupakan pekerja konstruksi yang berada di dalam gedung saat kejadian. Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Vinzon Dizon yang berada di lokasi mengungkapkan bahwa tim penyelamat mendengar suara-suara dari dalam reruntuhan. "Ada tanda-tanda kehidupan... Ada suara yang terdengar," ujar Dizon. Ia menambahkan bahwa lokasi sangat tidak stabil dan prioritas utama adalah mengevakuasi korban dengan hati-hati.
Angeles City dikenal sebagai lokasi bekas pangkalan udara terbesar Amerika Serikat di luar daratan AS, yang ditutup pada awal 1990-an. Kawasan tersebut, kini bernama Clark Freeport Zone, telah bertransformasi menjadi pusat hiburan dan komersial yang padat di Luzon, sekitar 80 kilometer di utara Metro Manila. Peristiwa ini kembali mengingatkan akan pentingnya standar keselamatan konstruksi di tengah pesatnya pembangunan di wilayah tersebut.
Ke depannya, insiden ini diharapkan mendorong evaluasi ketat terhadap prosedur keselamatan proyek konstruksi, terutama saat kondisi cuaca ekstrem yang kerap melanda Filipina. Otoritas setempat masih terus melakukan upaya pencarian dan penyelamatan hingga seluruh korban dapat dievakuasi.



