Penurunan Aktivitas Fisik pada Lansia Bisa Jadi Tanda Awal Gangguan Kognitif
Baca dalam 60 detik
- Studi longitudinal selama 17 tahun terhadap 2.529 orang dewasa Inggris berusia 50+ menemukan kaitan erat antara penurunan daya ingat dan berkurangnya aktivitas fisik ringan.
- Partisipan dengan memori yang lebih baik rata-rata aktif bergerak ringan 14 menit lebih lama per hari dan duduk 12 menit lebih sedikit dibanding mereka yang daya ingatnya menurun drastis.
- Temuan ini mengindikasikan hubungan dua arah: penurunan kognitif dapat memicu gaya hidup sedentari, bukan sebaliknya, sehingga perubahan aktivitas perlu diwaspadai sebagai sinyal awal demensia.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di JAMA Network Open mengungkapkan bahwa penurunan aktivitas fisik pada lansia mungkin bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan cerminan dari perubahan kognitif yang telah berlangsung lama. Penelitian yang menggunakan data dari English Longitudinal Study of Ageing (ELSA) ini melibatkan 2.529 partisipan berusia 50 tahun ke atas yang dipantau selama 17 tahun.
Para peneliti mengukur daya ingat episodik melalui tes recall kata langsung dan tertunda, serta tes kelancaran verbal. Aktivitas fisik diukur secara objektif menggunakan akselerometer yang dikenakan di pergelangan tangan selama delapan hari berturut-turut. Hasilnya, partisipan dengan lintasan memori yang lebih baik menghabiskan sekitar 14 menit lebih banyak per hari untuk aktivitas ringan—seperti berjalan, berkebun, atau pekerjaan rumah tangga—dan duduk 12 menit lebih sedikit dibanding mereka yang daya ingatnya menurun lebih cepat.
Perbedaan aktivitas ringan 14 menit per hari setara dengan 1,6 jam per minggu secara keseluruhan, dan mencapai 2,3 jam per minggu pada partisipan berusia 70 tahun ke atas. Meski tampak kecil, akumulasi ini signifikan secara klinis dan terkait dengan risiko kesehatan serta mortalitas pada lansia.
Penulis utama studi, Mikaela Bloomberg, PhD, dari University College London, menekankan bahwa temuan ini menyoroti kemungkinan adanya kausalitas terbalik. "Penurunan aktivitas fisik pada usia lanjut mungkin sebagian mencerminkan penurunan kognitif yang sudah berlangsung bertahun-tahun," ujarnya. Bloomberg menambahkan bahwa para klinisi dan peneliti perlu berhati-hati dalam menafsirkan hubungan observasional antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif, terutama pada kelompok usia lanjut.
Menariknya, perbedaan paling mencolok justru terlihat pada aktivitas ringan, bukan olahraga terstruktur. Hal ini masuk akal karena banyak lansia jarang melakukan olahraga berat, sehingga perubahan pada gerakan ringan lebih sensitif mendeteksi gangguan kognitif dini. Penurunan daya ingat dapat mengganggu kemampuan merencanakan, memulai, atau mempertahankan aktivitas, serta seringkali disertai isolasi sosial, gejala depresi, dan kerapuhan fisik.
"Perbedaan 10 hingga 20 menit aktivitas ringan per hari bukanlah hal sepele. Dalam studi kami, ini berarti 1–2 jam lebih sedikit bergerak per minggu, dan riset sebelumnya menunjukkan bahwa perbedaan sederhana pun relevan bagi kesehatan dan risiko kematian pada lansia." — Mikaela Bloomberg, PhD
Penelitian ini menantang asumsi umum bahwa kurang gerak semata-mata menyebabkan penurunan kognitif. Sebaliknya, penurunan fungsi otak justru dapat membuat seseorang lebih pasif. Hubungan ini bersifat dua arah dan saling memperkuat secara negatif. Bloomberg menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti olahraga tidak penting bagi kesehatan otak, tetapi perubahan aktivitas bisa menjadi bagian dari proses penuaan kognitif itu sendiri.
Meski demikian, studi ini memiliki keterbatasan. Partisipan yang memakai akselerometer cenderung lebih sehat, lebih kaya, dan lebih aktif dibanding populasi umum, serta mayoritas berkulit putih, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi. Selain itu, sifat observasional studi tidak memungkinkan kesimpulan kausal langsung.
Kendati begitu, hasil ini memberikan implikasi penting: penurunan aktivitas fisik pada lansia patut diwaspadai sebagai salah satu sinyal perubahan otak, bukan sekadar akibat dari faktor fisik semata. Bloomberg menyarankan agar lansia tetap mempertahankan aktivitas kognitif dan fisik yang realistis dan menyenangkan, seperti berjalan kaki, berkebun, atau pekerjaan rumah, untuk mendukung penuaan yang sehat.



