Krisis Ebola Kongo Memburuk: Fasilitas Medis Dibakar, 18 Pasien Hilang
Baca dalam 60 detik
- Serangan terhadap tenda perawatan Ebola di Mongbwalu menyebabkan 18 pasien dengan gejala infeksi melarikan diri dan belum ditemukan.
- Insiden ini merupakan yang kedua dalam sepekan, mencerminkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap penanganan jenazah dan prosedur karantina.
- WHO meningkatkan level risiko untuk Kongo menjadi 'sangat tinggi', sementara Amerika Serikat memberlakukan larangan masuk bagi pemegang green card dari negara terdampak.

BUNIA, Kongo — Sebuah tenda perawatan Ebola yang didirikan oleh Doctors Without Borders di kota Mongbwalu, Kongo timur, dibakar oleh warga setempat pada Jumat malam (24/5). Akibat kepanikan, 18 orang yang diduga terinfeksi virus Ebola melarikan diri dari fasilitas tersebut dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Insiden ini menandai serangan kedua terhadap pusat penanganan Ebola dalam waktu kurang dari sepekan.
Dr. Richard Lokudi, direktur rumah sakit Mongbwalu, mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, ia menyesalkan aksi tersebut karena menyebabkan kepanikan di kalangan staf medis dan membahayakan masyarakat luas. “Kami sangat mengutuk tindakan ini, karena memicu kepanikan dan mengakibatkan 19 kasus suspek melarikan diri ke komunitas,” ujarnya kepada Associated Press.
Sebelumnya, pada Kamis (23/5), pusat perawatan lain di kota Rwampara juga dibakar setelah pihak keluarga dilarang mengambil jenazah seorang warga yang diduga meninggal akibat Ebola. Penanganan jenazah penderita Ebola memang menjadi titik rawan konflik. Jenazah sangat menular, dan prosedur pemakaman yang dilakukan oleh otoritas sering kali mendapat perlawanan dari keluarga yang ingin melaksanakan upacara adat.
Pemakaman massal untuk pasien Ebola di Rwampara akhirnya dilakukan pada Sabtu (25/5) dengan pengawalan ketat personel bersenjata. David Basima, pimpinan tim Palang Merah yang mengawasi pemakaman, mengungkapkan bahwa timnya menghadapi resistensi dari pemuda dan komunitas setempat. “Kami terpaksa meminta bantuan otoritas demi keselamatan,” katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meningkatkan level risiko wabah ini menjadi “sangat tinggi” bagi Kongo, naik dari kategori sebelumnya. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa wabah diperkirakan jauh lebih luas dari data yang tercatat. Tidak ada vaksin yang tersedia untuk virus Bundibugyo, yang menyulitkan upaya pengendalian.
Di sisi lain, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan bahwa tiga relawannya meninggal akibat Ebola di Mongbwalu. Mereka diduga tertular pada 27 Maret saat menangani jenazah dalam misi kemanusiaan yang tidak terkait Ebola. Jika terkonfirmasi, hal ini akan memundurkan garis waktu wabah dari kematian pertama yang dilaporkan pada akhir April.
Menanggapi eskalasi ini, Amerika Serikat memberlakukan larangan masuk bagi pemegang green card yang pernah berada di Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan. Aturan ini berlaku segera berdasarkan otoritas darurat Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat AS. Langkah ini dikritik karena Sudan Selatan belum melaporkan kasus Ebola, dan larangan tersebut dinilai dapat menghambat respons global.
Dr. Jean Kaseya, direktur jenderal Africa CDC, menekankan bahwa respons terhadap wabah harus mencakup pembangunan kepercayaan dengan komunitas. Tanpa pendekatan yang melibatkan partisipasi lokal, upaya karantina dan pemakaman akan terus menghadapi resistensi. Ke depan, kolaborasi antara otoritas kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi kemanusiaan menjadi kunci untuk mengendalikan penyebaran virus yang mematikan ini.



