Bob Odenkirk Pilih Hidup Lebih Tenang Usai Serangan Jantung di Lokasi Syuting
Baca dalam 60 detik
- Aktor Bob Odenkirk memutuskan mengurangi jadwal kerja setelah mengalami serangan jantung pada 2021, menyadari pentingnya menghargai hidup.
- Insiden tersebut mendorongnya untuk menolak proyek berlebihan dan lebih fokus pada momen bersama keluarga, seperti liburan ke Paris.
- Meski beralih ke genre aksi, Odenkirk tetap membatasi komitmen dan mengapresiasi pelajaran berharga dari pengalaman hampir meninggal.

Aktor Bob Odenkirk, yang dikenal lewat serial Better Call Saul, mengaku mengalami perubahan besar dalam cara pandangnya terhadap hidup setelah menderita serangan jantung pada tahun 2021. Peristiwa yang terjadi di lokasi syuting itu membuatnya memutuskan untuk memperlambat laju karier dan lebih menghargai hal-hal sederhana.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Odenkirk mengungkapkan bahwa serangan jantung tersebut memberinya kesadaran akan rapuhnya kehidupan. Ia menyadari bahwa terlalu banyak tanggung jawab dan jadwal padat justru menghalangi kemampuan untuk menikmati setiap momen. “Jika serangan jantung itu memberi saya hadiah, itu adalah kesadaran bahwa saya tidak ingin terus seperti itu,” ujarnya. Kini, ia bertekad untuk tidak lagi menerima proyek sebanyak sebelumnya dan lebih memprioritaskan waktu bersama istri.
Meskipun berniat memperlambat langkah, Odenkirk tetap melanjutkan beberapa proyek yang sudah dijadwalkan sebelumnya, termasuk film aksi seperti Nobody dan Normal. Ia mengakui bahwa peralihan ke genre aksi bukanlah rencana yang disengaja, melainkan hasil dari kebetulan. “Saya berusia 63 tahun, dan tidak banyak komedi romantis yang ditulis untuk generasi saya. Saya suka film aksi. Ada banyak kemarahan di dalam diri saya yang bisa saya salurkan,” jelasnya.
Dalam film Normal, Odenkirk beradu peran dengan Henry Winkler. Ia memuji Winkler sebagai “manusia termanis yang pernah hidup” dan mengaku terinspirasi oleh kebaikan serta kesabaran rekannya itu. Menurut Odenkirk, Winkler mengajarkan bahwa bersikap ramah dan sabar di tengah gangguan sehari-hari adalah pilihan yang membutuhkan usaha.
“Henry sendiri adalah manusia termanis yang pernah hidup. Jika dia melepaskan sesuatu dalam diri saya, itu adalah keinginan untuk menjadi sebaik, semurah hati, dan seramah mungkin seperti yang dia lakukan setiap hari.”
Pengalaman Odenkirk menjadi pengingat bahwa kesibukan berlebihan dapat mengikis kemampuan untuk menikmati hidup. Dengan mengurangi beban kerja dan memilih proyek yang lebih bermakna, ia berharap dapat menjalani sisa karier dengan lebih seimbang. Keputusannya untuk tidak lagi mengejar kesibukan tanpa henti mencerminkan perubahan prioritas yang kerap terjadi setelah seseorang menghadapi krisis kesehatan.


