Mandiri Ungkap 39% Transaksi Masyarakat Masih Tunai, Digitalisasi Belum Sepenuhnya Tergusur
Baca dalam 60 detik
- Bank Mandiri mencatat 39% transaksi masyarakat Indonesia masih menggunakan uang tunai, baik melalui cabang maupun ATM.
- Meski transaksi digital (mobile/internet banking) mencapai 48-49%, dominasi milenial dan Gen Z belum sepenuhnya menghilangkan kebiasaan cash.
- Bank Mandiri mengadopsi strategi hibrida dengan memperkuat layanan digital dan offline secara simultan untuk menjangkau seluruh segmen nasabah.

Yogyakarta β Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengungkapkan bahwa meskipun transaksi digital terus melonjak, masyarakat Indonesia masih mempertahankan kebiasaan menggunakan uang tunai. Dalam acara Jogja Financial Festival (Finfest) 2026, Jumat (22/5/2026), ia menyebutkan bahwa sekitar 39% dari total transaksi masyarakat masih bersifat cash, baik melalui teller bank maupun mesin ATM.
Fenomena ini terjadi di tengah dominasi generasi milenial dan Gen Z yang mencakup hampir 60% populasi Indonesia dan menguasai 93% penggunaan internet nasional. Novita menjelaskan bahwa kelompok usia muda ini menghabiskan 95% interaksi harian mereka melalui internet, yang mendorong pertumbuhan transaksi digital. Namun, data Bank Mandiri menunjukkan bahwa adopsi digital belum sepenuhnya menggantikan uang tunai. Sekitar 48-49% transaksi dilakukan via internet banking dan mobile banking, sementara 10% lainnya melalui uang elektronik.
Novita menyoroti bahwa aplikasi Livin' dari Bank Mandiri telah menjadi tulang punggung transaksi digital, dengan volume harian mencapai 10 juta transaksi, bahkan menembus 13 juta pada periode puncak. Layanan ini mencakup kebutuhan harian seperti pembayaran transportasi online, top up e-money, transfer, hingga pembayaran uang sekolah. Meski demikian, perbankan tidak bisa sepenuhnya meninggalkan layanan offline karena masih ada segmen masyarakat yang bergantung pada transaksi tunai.
"Bagaimana perbankan menyesuaikan dengan perilaku masyarakat ini menjadi challenge," ujar Novita dalam sambutannya.
Menurutnya, strategi yang tepat adalah memperkuat kedua saluran secara bersamaan. Bank Mandiri berkomitmen untuk mengembangkan infrastruktur digital sekaligus mempertahankan jaringan cabang fisik. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan inklusi keuangan yang merata, mengingat tidak semua kelompok masyarakat memiliki akses atau kenyamanan terhadap layanan digital.
Ke depan, tren transaksi digital diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan penetrasi internet dan perangkat pintar. Namun, data Bank Mandiri mengindikasikan bahwa transisi menuju masyarakat tanpa uang tunai masih memerlukan waktu dan pendekatan yang inklusif. Perbankan harus mampu menyeimbangkan inovasi digital dengan kebutuhan layanan konvensional agar tidak meninggalkan nasabah yang belum siap beralih.



