Hannah Murray Buka Suara soal Pengalaman Kelam di Balik Industri Wellness
Baca dalam 60 detik
- Aktris Game of Thrones, Hannah Murray, mengaku sempat terjerat kultus wellness di usia 20-an dan kini menjauhi praktik seperti meditasi dan yoga.
- Murray menilai janji penyembuhan instan dari industri wellness terasa adiktif, terutama bagi mereka yang mencari solusi cepat atas masalah hidup.
- Ia menekankan pentingnya memahami kerentanan psikologis di balik keputusan seseorang bergabung dengan kelompok semacam itu, bukan sekadar menghakimi.

Hannah Murray, aktris yang dikenal luas sebagai Gilly dalam serial Game of Thrones, mengungkapkan pengalaman pahitnya saat terlibat dalam sebuah kultus wellness di masa mudanya. Kini di usia 36 tahun, ia memilih untuk menjauhi praktik-praktik yang berbau spiritual seperti meditasi, yoga, hingga toko kristal.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Murray mengaku bahwa industri wellness pernah terasa sangat menggoda. “Janji untuk memperbaiki hidup secara total, seperti tongkat ajaib atau peluru perak, terasa sangat adiktif,” ujarnya. Ia menyadari bahwa sisi gelap dari dunia wellness dan spiritual bisa menjerat siapa pun, termasuk dirinya yang berasal dari keluarga kelas menengah dan berpendidikan baik.
Murray, yang didiagnosis dengan gangguan bipolar, menceritakan bagaimana ia dulu menganggap dirinya cerdas dan aman dari eksploitasi. Namun kenyataannya, ia justru membuat keputusan-keputusan buruk yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Mudah sekali berkata, ‘Itu tidak akan terjadi padaku,’ tapi kita merugikan diri sendiri dengan pemikiran seperti itu,” tegasnya.
Murray kini tidak lagi bermeditasi, pergi ke toko kristal, atau melakukan yoga karena khawatir akan memicu pengalaman traumatis. Ia mengkritik betapa mudahnya orang menawarkan solusi wellness sebagai jawaban universal atas masalah kesehatan mental. “Orang bilang, ‘Kamu susah tidur? Coba meditasi.’ Padahal ada versi yang tidak berbahaya, tapi juga ada yang sangat merusak,” katanya.
Pengalaman Murray menjadi pengingat bahwa kerentanan psikologis dapat dieksploitasi oleh kelompok yang menjanjikan kesembuhan instan. Ia berharap masyarakat tidak menghakimi korban kultus sebagai bodoh, melainkan memahami konteks dan alasan di balik keputusan mereka. “Saya membuat pilihan yang buruk, tapi penting untuk mengerti mengapa orang melakukan hal-hal itu,” pungkasnya.
Ke depan, kisah Murray diharapkan mendorong diskusi lebih luas tentang perlunya literasi digital dan kewaspadaan terhadap janji-janji manipulatif di industri wellness, terutama di kalangan generasi muda yang rentan.


