Mentalitas, Bukan Striker: John Herdman Ungkap Akar Masalah Timnas Indonesia
Baca dalam 60 detik
- John Herdman menilai kekurangan utama Timnas Indonesia bukan pada minimnya penyerang murni, melainkan mentalitas tim yang belum terbangun untuk mencetak gol dari berbagai lini.
- Pelatih asal Inggris itu menyoroti kebiasaan terlalu pasif dan hanya mengandalkan transisi, sehingga perlu diubah menjadi pola pikir agresif dengan overload pemain di area penalti lawan.
- Fokus pembenahan akan dimulai dari pemusatan latihan di Jakarta, dengan menekankan pemahaman momentum, penetrasi kotak penalti, dan kontribusi gol dari bek sayap hingga gelandang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539838/original/079817900_1774627164-9.jpg)
Pelatih Tim Nasional Indonesia, John Herdman, secara tegas membantah anggapan bahwa skuad Garuda mengalami krisis penyerang tengah. Menurutnya, permasalahan fundamental yang menghambat produktivitas gol justru terletak pada mentalitas kolektif yang belum terbentuk. Dalam sesi jumpa pers di Stadion Madya, Jumat (22/5/2026), ia menekankan bahwa obsesi terhadap sosok nomor sembilan harus digantikan dengan keyakinan bahwa setiap pemainātanpa memandang posisiāmemiliki tanggung jawab untuk menjebol gawang lawan.
āKita terus terjebak dalam narasi āTimnas Indonesia butuh penyerang tengahā. Padahal, yang sesungguhnya dibutuhkan adalah mentalitas mencetak gol dari seluruh elemen tim, entah itu bek sayap, gelandang, atau penyerang,ā ujar Herdman. Ia menambahkan bahwa pendekatan ini merupakan solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan ketimbang sekadar mendatangkan striker baru.
Mantan pelatih Timnas Kanada itu menyoroti kebiasaan lama yang membuat permainan Indonesia mudah ditebak. āTerlalu pasif, hanya bertahan dan transisi. Saya ingin melihat bek tengah, gelandang, dan bek sayap berani menembus garis pertahanan lawan. Semua harus berpikir ātambah satuā untuk menciptakan keunggulan numerik,ā tegasnya. Herdman meyakini bahwa perubahan pola pikir ini akan membuat lawan kesulitan mengantisipasi serangan.
Untuk merealisasikan visi tersebut, Herdman telah memulai pemusatan latihan di Jakarta dengan fokus memperbaiki penyelesaian akhir. Ia mengakui bahwa para pemain sudah memahami skema di dua pertiga lapangan, tetapi masih kurang tajam di area final third. āSaya sudah berbicara dengan para pemimpin tim. Mereka harus terhubung untuk menutup celah, termasuk soal timing lari ke kotak penalti dan zona mana yang harus diserang,ā jelasnya.
āKami butuh lebih banyak pemain yang percaya diri masuk ke area penalti dan mencetak gol. Ini bukan soal posisi, melainkan kemauan dan pemahaman momentum.ā ā John Herdman
Langkah Herdman ini sekaligus menjawab kritik publik yang selama ini menyoroti minimnya stok striker murni. Dengan pendekatan mentalitas gol kolektif, ia berharap Timnas Indonesia bisa lebih fleksibel dan sulit diprediksi. Jika berhasil, transformasi ini tidak hanya akan meningkatkan produktivitas gol, tetapi juga membangun identitas permainan yang lebih agresif dan modern.



