Pemanis Buatan Terkait Penurunan Kognitif Setara 1,6 Tahun Penuaan Otak, Studi Baru Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Studi di jurnal Neurology menemukan enam jenis pemanis buatan berkaitan dengan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir setara 1,6 tahun penuaan otak.
- Temuan ini memicu perdebatan mengenai keamanan konsumsi jangka panjang pemanis buatan yang selama ini dianggap aman oleh FDA.
- Peneliti utama menekankan perlunya riset lebih lanjut sebelum merekomendasikan penghentian konsumsi pemanis buatan secara massal.

Pemanis buatan yang selama ini menjadi andalan bagi penderita diabetes dan pelaku diet kini kembali menjadi sorotan. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Neurology menemukan bahwa konsumsi rutin beberapa jenis pemanis buatan dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif yang setara dengan 1,6 tahun penuaan otak. Temuan ini memicu kekhawatiran baru di tengah meluasnya penggunaan bahan tersebut di berbagai produk makanan dan minuman.
Penelitian yang dipimpin oleh Claudia Suemoto, MD, PhD, dari Fakultas Kedokteran Universitas São Paulo ini menganalisis data ribuan partisipan dan mengukur asupan aspartam, sakarin, asesulfam-K, eritritol, xylitol, dan sorbitol. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi pemanis tersebut secara teratur mengalami penurunan skor tes memori dan kemampuan berpikir yang signifikan dibandingkan dengan non-pengguna. Meski demikian, Suemoto mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Selama ini, pemanis buatan direkomendasikan bagi penderita diabetes karena dianggap tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menyetujui berbagai jenis pemanis, termasuk sakarin, sukralosa, dan aspartam, serta alkohol gula seperti xylitol dan eritritol, dan pemanis alami seperti stevia dan monk fruit. Namun, akumulasi riset dalam beberapa tahun terakhir mulai mempertanyakan asumsi keamanan jangka panjangnya.
Suemoto, yang juga menjabat sebagai koordinator Bank Otak Kelompok Studi Penuaan Otak Brasil — bank otak terbesar di Amerika Latin — menekankan bahwa temuan ini tidak serta-merta berarti semua orang harus berhenti mengonsumsi pemanis buatan. “Kami masih membutuhkan lebih banyak penelitian, terutama studi klinis jangka panjang, untuk memahami mekanisme di balik hubungan ini,” ujarnya dalam wawancara dengan Medical News Today. Ia menambahkan bahwa faktor gaya hidup lain seperti pola makan keseluruhan dan aktivitas fisik juga berperan besar dalam kesehatan kognitif.
Kontroversi seputar pemanis buatan bukanlah hal baru. Beberapa studi sebelumnya telah mengaitkan konsumsi aspartam dengan risiko kanker dan gangguan metabolisme, meskipun hasilnya masih diperdebatkan. Studi terbaru ini menambah dimensi baru dengan fokus pada dampak neurologis. Para ahli sepakat bahwa diperlukan pendekatan hati-hati, terutama bagi kelompok yang mengandalkan pemanis buatan dalam jumlah besar setiap hari.
Ke depannya, riset lebih lanjut diharapkan dapat memberikan panduan yang lebih jelas bagi konsumen dan regulator. Sementara itu, Suemoto menyarankan agar masyarakat tidak panik, tetapi mulai membatasi konsumsi pemanis buatan dan beralih ke sumber pemanis alami seperti buah-buahan atau madu dalam jumlah wajar. “Keseimbangan dan moderasi tetap menjadi kunci,” pungkasnya.



