Operasi Gabungan AS-Nigeria Tumpas Tokoh Kunci ISIS di Cekungan Chad
Baca dalam 60 detik
- Abu Bakr al-Mainuki, yang disebut sebagai pemimpin nomor dua ISIS global, tewas dalam operasi udara-darat bersama AS dan Nigeria di Cekungan Chad.
- Penangkapan ini menandai pertama kalinya aparat keamanan berhasil menewaskan tokoh setingkat deputi pimpinan ISIS West Africa Province (ISWAP), berpotensi memicu kekacauan internal kelompok tersebut.
- Keberhasilan operasi memperkuat kemitraan keamanan AS-Nigeria yang baru terbentuk, sekaligus menekan peningkatan aktivitas ISIS di Afrika Barat yang mencapai lebih dari 500 serangan tahun lalu.

Pasukan Amerika Serikat dan Nigeria berhasil menewaskan seorang pemimpin senior Islamic State (ISIS) dalam sebuah operasi gabungan yang digelar Jumat malam (16/5) di kawasan Cekungan Chad. Presiden AS Donald Trump mengumumkan langsung misi tersebut melalui unggahan media sosial, menyebut target operasi adalah Abu Bakr al-Mainuki, yang didudukkan sebagai wakil komandan ISIS secara global.
Al-Mainuki selama ini dikenal sebagai arsitek utama pendanaan dan pengorganisasian ISIS, serta diduga tengah merencanakan serangan terhadap Amerika Serikat dan kepentingannya. Presiden Nigeria Bola Tinubu mengonfirmasi bahwa al-Mainuki tewas bersama sejumlah anak buahnya dalam serangan yang menyasar kompleks persembunyiannya di kawasan Danau Chad. Juru bicara satuan tugas militer Nigeria, Sani Uba, menyebut operasi ini sebagai "operasi udara-darat presisi tinggi" yang berlangsung selama tiga jam tanpa menimbulkan korban atau kerugian aset.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa al-Mainuki menjabat sebagai Emir Direktorat Jenderal Provinsi ISIS — posisi nomor dua dalam hierarki global kelompok tersebut — yang bertanggung jawab mengawasi perencanaan serangan, penyanderaan, dan pengelolaan keuangan. Namun, klaim ini masih sulit diverifikasi secara independen. Sejumlah analis menilai al-Mainuki sebenarnya adalah deputi Abu Musab al-Barnawi, pemimpin Islamic State West Africa Province (ISWAP) yang dilaporkan tewas pada 2021. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh sentral dalam pembentukan ISWAP setelah perpecahan dengan Boko Haram pada 2016.
Malik Samuel, peneliti senior Good Governance Africa yang fokus pada kelompok insurgensi di Nigeria, menilai operasi ini sangat signifikan. "Jika terkonfirmasi, pembunuhan al-Mainuki adalah pencapaian besar karena untuk pertama kalinya aparat keamanan berhasil menewaskan tokoh setinggi ini di jajaran ISWAP. Operasi yang dilakukan di jantung basis ISWAP yang sulit diakses berpotensi menimbulkan kekacauan internal," ujarnya.
"His elimination represents the single most consequential counterterrorism outcome in the region since the inception of the operation in 2015." — Sani Uba, juru bicara satuan tugas militer Nigeria
Misi ini merupakan buah dari kemitraan keamanan baru antara AS dan Nigeria yang terbentuk setelah Trump sebelumnya menuding warga Kristen menjadi sasaran krisis keamanan di Nigeria dan mengancam intervensi militer. Pada Februari lalu, AS mengirim pasukan penasihat ke Nigeria, disusul pengerahan drone pada Maret. Operasi Jumat malam itu menjadi yang terbaru dari serangkaian misi rahasia luar negeri yang diumumkan Trump tahun ini, termasuk penggulingan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro pada Januari dan serangan terhadap Iran pada Maret.
Keberhasilan operasi ini diharapkan dapat memutus rantai komando dan pendanaan ISIS di kawasan, sekaligus memperkuat stabilitas keamanan di Afrika Barat yang selama bertahun-tahun diguncang konflik bersenjata. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa kelompok afiliasi ISIS di Afrika tetap menjadi ancaman serius, dan diperlukan upaya berkelanjutan untuk mencegah kebangkitan kembali jaringan teror tersebut.



