Konferensi Tinjauan NPT Kembali Gagal Capai Konsensus, Memperlemah Rezim Nonproliferasi Global
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan selama sebulan di New York berakhir tanpa dokumen konsensus karena perbedaan pandangan soal program nuklir Iran.
- Kegagalan ini menandai tiga kali berturut-turut konferensi NPT tidak menghasilkan kesepakatan, memperdalam krisis kredibilitas perjanjian.
- Meningkatnya risiko penggunaan senjata nuklir akibat konflik global membuat absennya konsensus semakin mengkhawatirkan.

Konferensi tinjauan Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT) yang berlangsung selama sebulan di New York kembali gagal menghasilkan dokumen konsensus, Jumat (23/5). Kegagalan ini menjadi pukulan baru bagi rezim yang menjadi fondasi upaya global mencegah penyebaran senjata nuklir. Pertemuan yang dimulai pada 27 April itu dihadiri oleh 191 negara anggota, namun perbedaan pendapat mengenai program nuklir Iran menjadi batu sandungan utama.
Dalam draf akhir yang diedarkan Jumat pagi, disebutkan kewajiban Iran untuk tidak mencari, mengembangkan, atau memperoleh senjata nuklir. Iran dan Rusia menuntut agar poin tersebut dihapus, sementara Amerika Serikat bersikeras mempertahankannya. Duta Besar Vietnam, Do Hung Viet, yang menjabat presiden konferensi, melakukan negosiasi intensif hingga menit-menit terakhir, namun akhirnya menyerah untuk mengadopsi dokumen final. Ini adalah kali ketiga berturut-turut konferensi tinjauan NPT gagal mencapai konsensus, setelah sebelumnya pada 2015 dan 2022 juga berakhir tanpa hasil.
Kegagalan ini terjadi di tengah meningkatnya risiko penggunaan senjata nuklir akibat konflik berkepanjangan, seperti perang AS-Israel melawan Iran dan invasi Rusia ke Ukraina. Negara-negara bersenjata nuklir justru memperluas arsenal mereka, memicu frustrasi di kalangan negara non-nuklir yang menuntut perlucutan senjata lebih serius. Dalam pidatonya, Jiro Hamasumi, seorang penyintas bom atom Hiroshima yang kini berusia 80 tahun, menyerukan penghapusan senjata nuklir dan menyebutnya sebagai "senjata setan yang tidak bisa hidup berdampingan dengan umat manusia."
Draf awal sebelumnya juga menyebutkan denuklirisasi Korea Utara dan keamanan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia di Ukraina selatan, namun kedua poin tersebut dihapus atas desakan Moskow. Pola veto dan ketidaksepakatan yang berulang menunjukkan bahwa mekanisme NPT semakin terhambat oleh kepentingan geopolitik negara-negara besar.
Ke depannya, absennya konsensus dalam tiga konferensi berturut-turut mengancam legitimasi NPT sebagai pilar utama nonproliferasi. Tanpa komitmen nyata dari negara-negara bersenjata nuklir untuk melucuti senjatanya, traktat ini berisiko kehilangan relevansi. Masyarakat internasional kini menanti langkah konkret menjelang konferensi berikutnya pada 2031, meskipun optimisme tampaknya semakin pudar.



