Koops TNI Habema Bantah Terlibat Ledakan di Gereja Intan Jaya, Sebut Narasi Media Sosial Menyesatkan
Baca dalam 60 detik
- TNI memastikan tidak terlibat dalam insiden ledakan di Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni, Intan Jaya, Papua Tengah.
- Jenis granat yang ditemukan di lokasi bukan bagian dari persenjataan standar TNI, memperkuat bantahan tersebut.
- Bupati Intan Jaya meminta penegakan hukum tetap humanis dan tidak merugikan warga sipil serta tempat ibadah.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4836130/original/030257100_1716084013-IMG-20240519-WA0020.jpg)
Komando Operasi (Koops) TNI Habema secara resmi membantah tuduhan yang mengaitkan aparat TNI dengan insiden ledakan di Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Tuduhan yang beredar luas di media sosial itu dinilai tidak berdasar dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Infanteri M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menggunakan drone bersenjata atau menyerang warga sipil, apalagi di area rumah ibadah. Ia juga mengungkapkan bahwa jenis granat yang ditemukan di lokasi ledakan bukanlah senjata standar yang digunakan oleh TNI. "Kami menyesalkan adanya pemberitaan dan narasi di media sosial yang langsung menuduh TNI-Polri sebagai pelaku. Di sini kami tegaskan bahwa TNI bukan pelaku pengeboman tersebut," ujar Wirya dalam keterangan tertulisnya.
Wirya menduga insiden ini sengaja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk merusak hubungan baik antara aparat keamanan dan masyarakat Papua. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi provokatif yang belum terverifikasi. "Kami mengimbau seluruh pihak untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi yang berpotensi memprovokasi dan memperkeruh situasi keamanan di Intan Jaya," tambahnya.
Menanggapi dinamika keamanan tersebut, Bupati Intan Jaya Aner Maisini memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan warga sipil. Ia meminta agar setiap upaya penegakan hukum dan keamanan dilakukan secara humanis tanpa mengorbankan masyarakat. "Penegakkan harus humanis, karena yang jadi korban itu masyarakat. Jangan sampai gereja, sarana pemerintah, atau masyarakat sipil yang terkena dampak," tegas Aner.
Koops TNI Habema menegaskan bahwa pendekatan keamanan yang humanis tetap menjadi prioritas dalam menjalankan tugas di Papua. Perlindungan terhadap masyarakat sipil, tempat ibadah, dan fasilitas umum akan terus dijaga. Situasi keamanan di Intan Jaya saat ini masih dalam pemantauan ketat, dan pihak berwenang berharap masyarakat tidak terprovokasi oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.



