Danantara Buka Data: Laba BUMN 2025 Tembus Rp335 Triliun, Kontribusi ke APBN Capai Sepertiga
Baca dalam 60 detik
- COO Danantara mengungkapkan kontribusi BUMN terhadap APBN mencapai hampir sepertiga dari total penerimaan negara, dengan setoran pajak kuartal I-2026 sebesar Rp215 triliun.
- Klaim bahwa BUMN tidak pernah untung dibantah dengan data laba tahun 2025 sebesar Rp335 triliun, yang diproyeksikan naik menjadi Rp360 triliun pada 2026.
- Transformasi tata kelola melalui Danantara sebagai holding company memungkinkan konsolidasi dan penyehatan BUMN secara lebih efektif dibandingkan model sebelumnya.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, membeberkan data terbaru yang menunjukkan besarnya peran badan usaha milik negara (BUMN) dalam perekonomian Indonesia. Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, ia menyatakan bahwa kontribusi BUMN terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hampir mencapai sepertiga dari total penerimaan negara, baik melalui dividen maupun pajak.
Dony mencontohkan, pada kuartal pertama tahun 2026 saja, BUMN telah menyetorkan pajak sekitar Rp215 triliun kepada kas negara. Angka ini, menurutnya, membuktikan bahwa perusahaan pelat merah memiliki daya ungkit fiskal yang sangat signifikan. "BUMN kita itu sangat powerful," tegasnya di hadapan peserta forum.
Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan yang beredar di masyarakat bahwa banyak BUMN tidak menghasilkan keuntungan. Dony menegaskan, data laba tahun lalu menunjukkan sebaliknya. "Tidak benar kalau banyak yang bilang BUMN tidak pernah untung. Itu keliru. Tahun lalu kita menguntungkan Rp335 triliun," ujarnya.
Lebih lanjut, Dony menjelaskan bahwa transformasi tata kelola melalui Danantara sebagai sovereign wealth fund berbasis konsolidasi menjadi kunci peningkatan kinerja BUMN. Dengan model holding company, sejumlah BUMN besar seperti Bank Mandiri, BRI, Pertamina, PLN, Garuda Indonesia, dan Krakatau Steel berada dalam satu atap. Struktur ini memudahkan proses penyehatan perusahaan karena laba dari entitas yang sehat dapat dialokasikan untuk membantu perusahaan lain yang mengalami kesulitan keuangan.
"Sebelumnya, BUMN berdiri sendiri-sendiri sehingga sulit melakukan dukungan antarperseroan. Labanya BRI, Bank Mandiri, dan lainnya tidak bisa dipergunakan untuk membantu perusahaan yang lain," jelas Dony. Dengan konsolidasi ini, Danantara diharapkan menjadi motor percepatan pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja bagi generasi muda.
Model baru ini dinilai lebih efisien dibandingkan era sebelumnya di mana setiap BUMN beroperasi secara independen. Dony optimistis bahwa Danantara akan menjadi sumber percepatan pertumbuhan ekonomi ke depan, sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan investasi dan daya saing nasional.



