Kiprah Hery Gunardi di Balik Merger Bank Besar: Dari Bapindo ke BRI
Baca dalam 60 detik
- Hery Gunardi, Dirut BRI, memulai karier di Bapindo dan menjadi bagian dari tim inti merger empat bank yang melahirkan Bank Mandiri pada 1998-1999.
- Pengalaman merger dan akuisisi yang kuat membawanya memimpin konsolidasi tiga bank syariah BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).
- Saat ini, fokus Hery bukan merger, melainkan transformasi BRI menjadi bank modern yang tetap mengedepankan sektor UMKM dan kontribusi negara.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, memiliki rekam jejak panjang dalam konsolidasi perbankan nasional. Kariernya yang dimulai dari Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada akhir 1990-an justru menjadi fondasi bagi perannya sebagai tokoh kunci dalam sejumlah merger bank besar di Indonesia.
Hery mengawali perjalanan profesionalnya di Bapindo, bank yang kemudian tutup akibat krisis moneter 1998-1999. Saat itu, pemerintah memutuskan menggabungkan Bapindo dengan Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Eksim), dan Bank Dagang Negara (BDN) menjadi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Dalam proses tersebut, Hery yang saat itu masih berusia muda ditunjuk sebagai anggota tim inti merger. Ia bertanggung jawab mengintegrasikan cabang, produk ritel, sistem, hingga branding bank anyar tersebut.
Menurut Hery, proses merger kala itu tidak mudah. Banyak rekan kerjanya memilih keluar karena ketidakpastian. Namun, ia memutuskan bertahan dan percaya pada proses. "Kalau kapalnya karam, nanti kita loncat," ujarnya dalam sesi Entrepreneur Talks di Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026). Keputusan itu membuahkan hasil: Hery kemudian diangkat menjadi direktur dan terus meniti karier hingga memiliki reputasi kuat di bidang merger dan akuisisi (M&A).
"Saya tidak tahu kenapa saya punya brand seperti itu. Tapi memang karena pengetahuan merger dan akuisisi yang kuat, itu jadi branding saya." — Hery Gunardi
Keahliannya kembali diuji saat pemerintah memutuskan menggabungkan tiga bank syariah BUMN—BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah—menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 2021. Hery ditunjuk sebagai ketua tim merger atau director project merger BSI. Konsolidasi ini berhasil menciptakan bank syariah terbesar di Indonesia dengan aset gabungan yang signifikan, memperkuat posisi perbankan syariah nasional di kancah global.
Kesuksesan di BSI mengantarkan Hery ke posisi puncak di BRI pada 2023. Namun, tantangan yang dihadapi berbeda. BRI bukanlah bank hasil merger, melainkan "kapal induk" yang sudah besar dengan kontribusi luar biasa terhadap negara sebagai penyetor dividen, setoran pajak, dan dana kemitraan terbesar di antara BUMN. Tugasnya kini adalah mentransformasi BRI menjadi bank yang modern tanpa meninggalkan fokus pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
"BRI ini butuh bukan merger, tapi butuh transformasi. Bagaimana membawa BRI menjadi bank yang modern, tetap fokus ke UMKM, tapi bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi kepada negara," jelas Hery. Langkah transformasi mencakup digitalisasi layanan, pengembangan ekosistem UMKM, serta efisiensi operasional untuk meningkatkan profitabilitas dan daya saing.
Perjalanan Hery Gunardi dari krisis 1998 hingga memimpin bank terbesar di Indonesia menunjukkan bahwa konsolidasi dan transformasi merupakan dua sisi mata uang yang sama pentingnya dalam memperkuat industri perbankan nasional. Ke depannya, BRI diharapkan tidak hanya menjadi bank yang besar, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman dan tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.



