Menguak 'Efek Rashomon' di Balik Sesi Foto Ikonis Mishima dan Hosoe
Baca dalam 60 detik
- Fenomena 'Efek Rashomon' menunjukkan bagaimana satu peristiwa bisa memiliki banyak versi kontradiktif, seringkali tanpa kita sadari karena hanya satu pihak yang bersuara.
- Sesi foto 'Ordeal by Roses' antara Yukio Mishima dan Eiko Hosoe kerap dianggap sebagai kendali penuh sang fotografer, namun analisis mendalam justru mengindikasikan Mishima sebagai dalang di balik setiap gambar.
- Simbol-simbol pribadi Mishima—seperti bola bisbol dan jam menunjukkan pukul 12—muncul dalam foto, menandakan bahwa ia secara halus mengarahkan narasi visual tanpa sepengetahuan Hosoe.

Fenomena yang dikenal sebagai 'Efek Rashomon'—di mana para saksi mata memberikan kesaksian yang saling bertentangan tentang suatu peristiwa—seringkali beroperasi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari. Konsep yang lahir dari cerpen Ryunosuke Akutagawa 'In a Grove' dan diabadikan dalam film Akira Kurosawa ini kembali relevan ketika kita menelisik salah satu sesi foto paling ikonis dalam sejarah Jepang: kolaborasi antara fotografer Eiko Hosoe dan sastrawan Yukio Mishima pada 1961–1962 yang menghasilkan koleksi 'Ordeal by Roses'.
Selama ini narasi dominan yang beredar berasal dari sudut pandang Hosoe. Ia menggambarkan dirinya sebagai pengendali penuh di balik lensa, memanipulasi Mishima—yang saat itu berusia 36 tahun—ke dalam pose-pose homoerotik dan sadistis, seperti terbungkus selang taman dengan palu di kepala. Kritikus Kotaro Iizawa pada 2020 bahkan memuji Hosoe karena 'tidak mundur selangkah pun' di hadapan kepribadian karismatik Mishima, dan berhasil mempertahankan visi fotografinya sendiri. Namun, apakah versi ini benar-benar mencerminkan realitas?
Analisis lebih dekat terhadap foto-foto yang dihasilkan justru mengungkapkan kejanggalan dalam klaim Hosoe. Banyak elemen visual yang sarat makna personal Mishima—misalnya, gambar Mishima memegang palu ke kepalanya bisa ditafsirkan sebagai referensi pada kecintaannya pada Nietzsche dan 'berfilsafat dengan palu'. Lebih mencengangkan lagi, ada foto Mishima bertelanjang dada berdiri di atas bangku kecil sambil memegang jam besar yang menunjukkan pukul 12. Bola bisbol yang digenggamnya melambangkan awal karier sastranya—ia pernah menulis bahwa kariernya dimulai saat mendengar suara bola bisbol dipukul di luar—sementara jam tersebut menandakan akhir yang ia rencanakan tepat pada tengah hari.
"Dunia tempat saya diculik oleh lensanya tidak normal, bengkok, sarkastik, aneh, biadab, dan mesum... namun ada aliran lirisme yang jelas bergumam lembut melalui saluran-salurannya yang tak terlihat," tulis Mishima dalam pengantar koleksi foto tersebut.
Kata-kata Mishima itu justru menimbulkan kecurigaan: seberapa banyak 'saluran tak terlihat' yang luput dari pengamatan Hosoe? Sang sastrawan, yang dikenal cerdik, tampaknya sengaja meninggalkan properti seperti palu, bola bisbol, dan jam di lokasi pemotretan, membiarkan Hosoe 'menemukan' dan menggunakannya. Dengan cara ini, Mishima berhasil mendapatkan gambar-gambar yang persis ia inginkan—penuh simbolisme yang hanya ia pahami—sementara Hosoe pergi dengan keyakinan bahwa dirinyalah yang memegang kendali.
Kasus ini mengingatkan kita bahwa 'Efek Rashomon' tidak selalu membutuhkan banyak saksi; kadang satu versi cerita yang dominan sudah cukup untuk mengaburkan kebenaran. Dalam konteks ini, Mishima mungkin telah menulis ulang narasi visualnya sendiri dari balik layar, meninggalkan kita dengan pertanyaan: sejauh mana seorang subjek bisa menjadi pengarah sejati dalam sebuah karya seni yang tampaknya dikendalikan oleh sang kreator?


