Isyarat Damai AS-Iran Dongkrak Bursa Asia: Nikkei dan Kospi Melonjak Tajam
Baca dalam 60 detik
- Pernyataan Iran yang tengah mengkaji proposal baru dari AS memicu reli saham Asia, dengan Nikkei dan Kospi mencatat kenaikan signifikan.
- Kenaikan Kospi juga didorong oleh kesepakatan antara Samsung Electronics dan serikat pekerja yang mencegah aksi mogok massal.
- Meski ada optimisme, analis mengingatkan risiko kegagalan negosiasi masih tinggi mengingat sejarah deadlock sebelumnya.

Bursa saham Asia bergerak liar pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah sinyal baru dari Iran dan Amerika Serikat (AS) memicu harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah. Optimisme ini langsung mendorong indeks utama Asia ke zona hijau, dengan Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan memimpin penguatan.
Nikkei 225 melesat lebih dari 3% pada sesi awal, meskipun kemudian sedikit memangkas kenaikan menjadi sekitar 3,20% pada pukul 00.30 GMT. Sementara itu, Kospi mencatat lonjakan yang lebih spektakuler, mencapai 5,42% β level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Reli di Korea Selatan juga ditopang oleh kabar positif dari negosiasi internal Samsung Electronics dengan serikat pekerja yang berhasil menghindari aksi mogok kerja besar-besaran yang direncanakan hari itu.
Pemicu utama rally ini adalah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran yang mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang mempelajari proposal baru dari AS. Juru bicara Esmaeil Baqaei menyatakan, "Iran telah menerima pandangan dari pihak AS dan tengah mempelajarinya," seperti dikutip dari AFP. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berada di "borderline" β di ambang antara kesepakatan damai dan kembali pecahnya ketegangan. Trump juga menekankan bahwa negosiasi telah memasuki "final stages".
Reaksi pasar tidak hanya terbatas pada ekuitas. Harga minyak mentah dunia turun drastis lebih dari 5% pada Rabu, mencerminkan ekspektasi bahwa pasokan minyak dari kawasan Teluk tidak akan terganggu oleh konflik berkepanjangan. Sementara itu, bursa saham AS ditutup menguat, memberikan katalis tambahan bagi sentimen positif di Asia.
Meskipun euforia melanda, sejumlah analis mengingatkan investor untuk tetap waspada. Sejarah menunjukkan bahwa negosiasi serupa sebelumnya beberapa kali gagal mencapai hasil konkret. Trump sendiri telah memperingatkan bahwa jendela diplomasi bisa tertutup dengan cepat jika pembicaraan kembali menemui jalan buntu. Oleh karena itu, volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi seiring perkembangan situasi.
Ke depan, pasar akan mencermati respons resmi Iran terhadap proposal AS serta sinyal dari pemerintahan Trump mengenai langkah selanjutnya. Jika kesepakatan benar-benar terwujud, dampaknya bisa meluas ke sektor energi, pertahanan, dan logistik global. Namun, jika negosiasi gagal, risiko eskalasi konflik kembali menjadi ancaman utama bagi stabilitas pasar keuangan.



