Vale Indonesia Tegaskan Komitmen Produksi Nikel Berkelanjutan di Tengah Sorotan Global
Baca dalam 60 detik
- PT Vale Indonesia menegaskan nikel yang diproduksinya memenuhi standar keberlanjutan nasional dan internasional, merespons kritik terhadap dampak lingkungan pertambangan.
- Perusahaan menerapkan kebijakan reklamasi lahan dengan rasio 1:1,5, yakni setiap hektar lahan tambang yang dibuka diimbangi perbaikan 1,5 hektar hutan.
- Vale memposisikan diri sebagai pemimpin dalam keberlanjutan dan keanekaragaman hayati, tidak sekadar produsen komoditas, untuk mendukung transisi energi global.

PT Vale Indonesia Tbk menegaskan komitmennya terhadap praktik pertambangan berkelanjutan di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap dampak lingkungan sektor ini. Presiden Direktur dan CEO Bernardus Irmanto menyatakan bahwa nikel yang diproduksi perusahaannya memenuhi standar global dan nasional, serta berkontribusi positif pada agenda transisi energi.
Dalam paparannya di Jogja Financial Festival 2026, Bernardus mengkritik narasi yang menyebut pertambangan sebagai aktivitas destruktif. Ia menekankan bahwa hanya kurang dari 1% daratan global yang digunakan untuk pertambangan, sementara nikel menjadi kunci dalam produksi baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, dan infrastruktur energi terbarukan seperti turbin angin.
Bernardus menyoroti risiko oversupply yang dapat menekan harga nikel, mengingat dalam beberapa tahun terakhir fokus industri adalah memaksimalkan produksi. Ia menekankan pentingnya memproduksi nikel secara bertanggung jawab untuk menghindari stigma negatif seperti yang dialami kobalt dari Kongo, yang dihindari pasar karena isu pelanggaran hak asasi manusia dan lingkungan.
βSaya ingin memposisikan Vale membawa dampak positif terhadap hutan. Jika kita membuka lahan 1 hektar, kita memperbaiki 1,5 hektar. Kualitas tambang Vale jauh lebih baik, mengikuti standar nasional dan internasional. Kami yakin nikel yang diproduksi bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari agenda transisi energi. Tidak elok transisi energi dilakukan dengan merusak lingkungan,β ujar Bernardus.
Langkah Vale ini sejalan dengan tren global di mana investor dan konsumen semakin menuntut rantai pasok yang berkelanjutan. Dengan sertifikasi dan praktik reklamasi yang ketat, Vale berupaya membedakan diri dari produsen lain yang kurang memperhatikan aspek lingkungan. Ke depan, perusahaan akan terus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahap operasi, dari eksplorasi hingga pasca-tambang, guna mempertahankan posisi sebagai pemimpin industri nikel berkelanjutan.



