BTN Catatkan 6 Juta KPR Subsidi, Incar Segmen Unbanked Lewat Digitalisasi
Baca dalam 60 detik
- BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR subsidi untuk kelompok desil 3, setara dengan 21-30% penduduk termiskin secara nasional.
- Strategi BTN mencakup KPR subsidi untuk desil 3-8 dan bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) untuk desil 1-2, dengan nilai Rp20-25 juta per rumah tangga.
- Digitalisasi menjadi kunci: mobile banking BTN telah mengumpulkan 5 juta pengguna dalam tiga tahun, melampaui akumulasi KPR selama 70 tahun.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) melaporkan telah menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi sebanyak 6 juta unit kepada masyarakat kategori desil 3 sejak program dimulai. Angka tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, dalam acara Jogja Financial Festival di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). Desil 3 merujuk pada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah ke-21% hingga 30% secara nasional, yang dalam klasifikasi pemerintah disebut sebagai kelompok hampir miskin.
Nixon menjelaskan bahwa pendekatan BTN dalam pembiayaan perumahan terbagi menjadi dua jalur utama. Pertama, KPR subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan batas maksimal pendapatan tertentu, menyasar desil 3 hingga 8. Kedua, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang diberikan langsung kepada kelompok desil 1 dan 2—mereka yang dinilai belum mampu mengakses kredit perbankan. Pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp20 juta hingga Rp25 juta per rumah tangga untuk program BSPS tahun ini, dengan target 400 ribu rumah tangga di seluruh Indonesia.
Untuk memperluas akses pembiayaan, pemerintah saat ini tengah mengkaji skema tenor KPR hingga 40 tahun. Nixon menyebut langkah ini diharapkan mampu membuka akses bagi kelompok desil 1 dan 2 yang selama ini sulit mendapatkan pembiayaan perumahan. "Ini cara penetrasi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah)," ujarnya.
Selain pembiayaan, BTN mengandalkan digitalisasi sebagai motor penetrasi ke segmen unbanked. Nixon mencatat bahwa penetrasi telepon seluler di Indonesia jauh melampaui kepemilikan rekening bank. Contoh nyata, dalam waktu kurang dari tiga tahun, pengguna mobile banking BTN telah mencapai sekitar 5 juta akun—hampir menyamai jumlah KPR yang disalurkan selama lebih dari 70 tahun. "Penetration rate sekarang lebih mudah karena mobile bisa buka dari rumah. Itu cara kami akses unbanked," tutup Nixon.
Ke depan, kombinasi antara perluasan skema kredit dan akselerasi digital diproyeksikan menjadi kunci BTN dalam menjembatani kesenjangan kepemilikan rumah di Indonesia, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini tidak tersentuh layanan perbankan.



