Harvard Batasi Nilai A untuk Mahasiswa S1, Akhiri Inflasi Nilai Akademik
Baca dalam 60 detik
- Fakultas Seni dan Sains Harvard memutuskan membatasi jumlah nilai A di kelas sarjana maksimal 20% plus empat siswa, berlaku mulai 2027.
- Langkah ini merespons data bahwa lebih dari 60% nilai yang diberikan belakangan ini berada di kisaran A, sehingga dianggap tidak lagi membedakan prestasi luar biasa.
- Kebijakan serupa pernah diterapkan Princeton namun dihapus setelah satu dekade; Harvard berharap versi yang lebih sempit ini tidak berdampak signifikan pada IPK mahasiswa.

Harvard University resmi mengumumkan kebijakan pembatasan nilai A bagi mahasiswa sarjana, menyusul kekhawatiran bahwa inflasi nilai telah mengikis makna prestasi akademik. Keputusan yang diambil melalui pemungutan suara fakultas pada awal bulan ini akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2027.
Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 60% nilai yang diberikan kepada mahasiswa Harvard berada dalam rentang A. Kondisi ini mendorong sejumlah pengajar untuk menilai bahwa nilai tinggi tidak lagi mencerminkan capaian luar biasa. Joshua Greene, profesor psikologi yang tergabung dalam subkomite perumus kebijakan, menyebut reformasi ini bertujuan mengakhiri "tirani transkrip sempurna" yang membuat mahasiswa enggan mengambil risiko demi mempertahankan nilai rata-rata tinggi.
Kebijakan baru menetapkan bahwa instruktur hanya boleh memberikan nilai A kepada maksimal 20% mahasiswa dalam satu kelas, ditambah empat mahasiswa tambahan. Berbeda dengan pendekatan Princeton yang membatasi seluruh nilai A-range hingga 35% dan kemudian dihapus, Harvard hanya membatasi nilai A murni, sementara A-minus tetap diperbolehkan tanpa batas. Alisha Holland, profesor pemerintahan dan mantan mahasiswa Princeton yang ikut merancang kebijakan, menegaskan bahwa langkah ini dirancang sebagai reformasi pro-mahasiswa yang tidak akan berdampak besar pada IPK.
Reaksi terhadap keputusan ini beragam. Steven Pinker, psikolog kognitif Harvard yang lama mengkritik inflasi nilai, menyambut baik hasil pemungutan suara. Ia menyebut bahwa dosen yang mempertahankan standar tinggi sering kehilangan peminat, dan inflasi nilai telah menjadikan universitas sebagai "bahan tertawaan nasional". Sebaliknya, Asosiasi Mahasiswa Harvard menyatakan kekecewaan karena suara mahasiswa tidak diakomodasi dalam proses pengambilan keputusan. Survei internal menunjukkan hampir 85% dari sekitar 800 responden menentang usulan pembatasan nilai A.
Selain pembatasan nilai A, fakultas juga menyetujui penggunaan peringkat persentil rata-rata sebagai pengganti IPK dalam menentukan penghargaan dan beasiswa. Sebuah usulan alternatif yang memungkinkan kelas memilih keluar dari sistem nilai dengan beralih ke sistem memuaskan/tidak memuaskan dan label SAT+ untuk kinerja luar biasa, gagal disetujui. Kebijakan baru ini akan dievaluasi setelah tiga tahun penerapan.
Stuart Rojstaczer, mantan profesor Duke yang meneliti inflasi nilai di AS, menyebut perubahan ini sebagai pergeseran budaya yang nyata. Namun ia meragukan apakah kebijakan serupa akan diadopsi oleh universitas lain dan bertahan dalam jangka panjang. Langkah Harvard ini menjadi sinyal bahwa institusi pendidikan tinggi mampu melakukan reformasi diri di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap kredibilitas sistem akademik.



