Purbaya Yakin Rupiah ke Rp15.000, Ini Alasan di Balik Optimisme Pemerintah
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendesak masyarakat menjual dolar AS karena optimisme rupiah menguat ke Rp15.000/US$ dalam waktu dekat.
- Pemerintah mengandalkan aturan baru DHE SDA yang mewajibkan eksportir menyimpan devisa di dalam negeri, serta penerbitan global bond US$3,4 miliar untuk menambah pasokan dolar.
- Di balik optimisme, defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 melebar menjadi US$4 miliar, menunjukkan tekanan fundamental yang masih membayangi rupiah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka meminta masyarakat dan pelaku pasar valas untuk segera melepas kepemilikan dolar Amerika Serikat. Ia optimistis nilai tukar rupiah akan menguat hingga menyentuh level Rp15.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Jogjakarta Financial Festival di Jogja Expo Centre, Jumat (21/5/2026), di tengah tekanan rupiah yang masih terasa.
"Saya bilang pemain valas cepat-cepat buang dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp15.000 per dolar AS," ujar Purbaya di hadapan peserta. Ia bahkan mengulangi imbauannya kepada masyarakat yang masih menyimpan greenback. Namun, pernyataan tersebut memicu pertanyaan di pasar: jika pemerintah begitu yakin, mengapa rupiah masih bergerak melemah?
Purbaya menjelaskan bahwa pelemahan saat ini bersifat sementara, sementara fundamental pasokan devisa akan membaik mulai Juni 2026. Salah satu pendorong utamanya adalah implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku 1 Juni 2026. Aturan ini mewajibkan eksportir menempatkan 100% devisa hasil ekspor di perbankan nasional. Khusus sektor migas, retensi DHE sebesar 30% selama tiga bulan, sedangkan nonmigas wajib menahan 100% selama 12 bulan di rekening khusus.
"Keputusan pemerintah menjalankan aturan DHE ini langkah yang baik dan tepat," tegas Purbaya. Ia menilai kebijakan ini akan meningkatkan pasokan dolar di dalam negeri secara signifikan, sehingga menopang penguatan rupiah. Selain itu, pemerintah juga mengerek suplai dolar melalui penerbitan global bond senilai US$3,4 miliar, terdiri dari obligasi dolar AS US$2 miliar dan obligasi euro 1,25 miliar euro. "Kalau itu masuk ke sini, akan tambah supply dolar ke kita. Jadi saya tekankan lagi rupiah akan menguat," ujarnya.
Namun, di balik optimisme pemerintah, tekanan terhadap rupiah masih nyata. Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah terjadi karena permintaan dolar AS jauh lebih besar dibandingkan pasokan di pasar domestik. "Transaksi berjalan kita defisit, artinya kita netnya mengalami banyak bayar daripada nerima. Ini yang menjadi permasalahan," jelas Aida dalam acara yang sama. Defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 tercatat US$4 miliar, setara 1,1% PDB, naik dari US$2,5 miliar (0,7% PDB) pada kuartal sebelumnya.
Untuk mengatasi ketimpangan ini, pemerintah dan BI menyiapkan langkah tambahan, termasuk pembentukan BUMN ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) yang diharapkan mengoptimalkan penerimaan ekspor. "Presiden akan buat suatu badan untuk pastikan penerimaan ekspor lebih baik dan makin optimal," ujar Aida. Selain itu, upaya menarik arus modal asing terus digencarkan guna menutup defisit transaksi berjalan dan menambah suplai dolar.
Purbaya menutup pernyataannya dengan optimisme, meminta masyarakat tidak panik menghadapi fluktuasi rupiah. "Kalau kata Presiden, selama Purbaya senyum, ekonomi bagus nih, senyum terus nih!" katanya disambut tepuk tangan. Namun, para pelaku pasar tetap mencermati implementasi kebijakan DHE SDA dan efektivitas global bond dalam menopang rupiah di tengah defisit transaksi berjalan yang masih melebar.



