SBN Retail: Instrumen Zero Risk yang Jadi Gerbang Investasi bagi Pemula
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menerbitkan SBN retail senilai Rp153 triliun pada 2025, naik dari Rp148 triliun tahun sebelumnya, dengan jumlah investor individu mencapai sekitar 1 juta orang.
- Dirjen PPR Suminto menekankan bahwa SBN retail memiliki risiko nyaris nol karena dijamin oleh negara, menjadikannya pilihan ideal bagi investor pemula yang ingin belajar berinvestasi.
- Rendahnya literasi keuangan di kalangan masyarakat menjadi perhatian, karena dapat membuat mereka rentan terhadap investasi bodong meski minat investasi tinggi.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) retail sepanjang 2025 mencapai Rp153 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp148 triliun. Data ini disampaikan oleh Dirjen PPR Suminto dalam acara Jogjakarta Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026).
Suminto mengungkapkan bahwa jumlah investor individu yang berpartisipasi dalam SBN retail telah mencapai sekitar 1 juta orang. Angka ini menunjukkan minat yang cukup besar dari masyarakat terhadap instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah. Namun, ia menyayangkan bahwa banyak masyarakat yang terjun ke sektor keuangan tanpa dibekali literasi yang memadai, sehingga rentan terhadap investasi bodong.
Menurut Suminto, SBN retail merupakan instrumen investasi dengan risiko nyaris nol (zero risk) karena diterbitkan oleh negara sebagai pemegang kedaulatan. Indonesia sebagai negara tidak akan mengalami gagal bayar (default) berkat ketahanan fiskal yang kuat. Oleh karena itu, SBN retail dinilai sangat cocok bagi masyarakat yang ingin memulai investasi, terutama bagi pemula yang perlu belajar mengelola risiko.
"Jadi kalau kita berlatih berinvestasi, dimulai dari yang risikonya lebih rendah. Makanya nanti sejalan dengan literasi dan pemahaman kita terhadap instrumen-instrumen keuangan," ujar Suminto. Pernyataan ini menegaskan pentingnya literasi keuangan sebagai fondasi sebelum berinvestasi, sekaligus mempromosikan SBN retail sebagai pintu masuk yang aman.
Ke depan, pemerintah diharapkan terus meningkatkan edukasi keuangan kepada masyarakat agar minat investasi yang tinggi tidak berujung pada kerugian akibat instrumen ilegal. SBN retail, dengan profil risikonya yang rendah, dapat menjadi solusi bagi investor pemula untuk membangun portofolio secara bertahap.



