Strategi PT SMI Pertahankan NPL di Bawah 1%: Seleksi Proyek dan Mitigasi Risiko Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Reynaldi Hermansjah mengungkapkan bahwa rasio kredit bermasalah PT SMI hanya 0,4% berkat proses seleksi proyek yang ketat dan pemantauan berkelanjutan.
- Pembiayaan infrastruktur jangka panjang, dengan tenor hingga 19 tahun, menuntut persiapan proyek yang matang untuk meminimalkan risiko gagal bayar.
- Kinerja NPL yang rendah ini menjadi tolok ukur bagi BUMN lain dalam mengelola portofolio pembiayaan strategis.

Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI, Reynaldi Hermansjah, membeberkan strategi perusahaan dalam menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tetap rendah. Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026), ia mengungkapkan bahwa NPL perseroan saat ini berada di angka 0,4%, jauh di bawah ambang batas 1% yang umumnya menjadi standar industri.
Menurut Reynaldi, kunci utama pengendalian NPL terletak pada tahap awal sebelum pembiayaan diberikan. PT SMI menerapkan proses seleksi yang ketat terhadap jenis infrastruktur dan proyek yang akan dibiayai. Setelah itu, perusahaan melakukan mitigasi risiko secara sistematis serta monitoring berkelanjutan sepanjang masa pinjaman. "Ini merupakan suatu proses yang cukup berlanjut," ujarnya.
Reynaldi menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada saat proyek berjalan, melainkan pada fase persiapan proyek (project preparation). Menurutnya, kesalahan dalam perencanaan awal dapat menyebabkan penyimpangan dari proyeksi, yang berujung pada peningkatan risiko kredit. "Bukan kendala, tetapi challenge yang besar adalah pada saat masa persiapan," jelasnya. Dengan persiapan yang matang, proyek diharapkan dapat berjalan sesuai rencana dan meminimalkan potensi gagal bayar.
Pencapaian NPL di bawah 1% ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan infrastruktur nasional. PT SMI, sebagai salah satu BUMN yang fokus pada pembiayaan infrastruktur, dinilai berhasil menerapkan tata kelola risiko yang prudent. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat kepercayaan investor, tetapi juga menjadi model bagi lembaga pembiayaan lain dalam mengelola portofolio jangka panjang.
Ke depan, PT SMI diperkirakan akan terus memperkuat sistem seleksi dan monitoring proyek seiring dengan rencana ekspansi pembiayaan ke sektor-sektor baru seperti energi terbarukan dan transportasi massal. Dengan mempertahankan NPL rendah, perusahaan optimistis dapat berkontribusi lebih besar dalam percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia tanpa mengorbankan kesehatan keuangan.



