Digitalisasi 99,8% Transaksi BCA: Strategi Antisipasi Serangan Siber Makin Agresif
Baca dalam 60 detik
- BCA mencatat 99,8% transaksi nasabah telah beralih ke kanal digital, menjadikan bank ini salah satu yang paling terdigitalisasi di Indonesia.
- Risiko cyber fraud di Indonesia mencapai 99% dari total kasus penipuan, mendorong BCA mengadopsi face biometric dan memusatkan notifikasi ke aplikasi myBCA.
- Modus penipuan seperti phishing link palsu dan fake BTS masih mendominasi; nasabah diimbau tidak pernah membagikan data pribadi melalui SMS.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melaporkan bahwa hampir seluruh transaksi nasabah—tepatnya 99,8%—kini dilakukan secara digital. Angka ini menegaskan posisi BCA sebagai salah satu bank dengan adopsi digital tertinggi di Indonesia. Namun, di balik pencapaian tersebut, ancaman kejahatan siber kian mengintai. Senior Advisor of Fraud Banking Investigation BCA, Wani Sabu, mengungkapkan bahwa secara global 88% kasus penipuan berasal dari cyber fraud, sementara di Indonesia angkanya bahkan menembus 99%.
Dalam acara Educational Class yang digelar di Jogja Financial Festival 2026, Wani memaparkan berbagai modus penipuan yang paling sering menyasar nasabah perbankan. Salah satu yang paling marak adalah phishing melalui tautan palsu—mulai dari undangan pernikahan hingga pemberitahuan pembayaran pajak. Pelaku juga menggunakan teknik fake BTS, yaitu alat yang menyusupkan SMS palsu seolah-olah dari institusi resmi seperti BCA. Contohnya, pesan yang menyatakan poin hadiah akan hangus dan meminta nasabah mengklik tautan tertentu. "Jangan di-klik linknya, itu bukan dari BCA," tegas Wani.
Untuk memitigasi risiko, BCA mengandalkan teknologi face biometric pada aplikasi myBCA. Langkah ini memastikan bahwa hanya pemilik akun sah yang dapat mengakses layanan. "Makanya BCA memproteksi pakai face biometrik. Supaya memastikan nasabah yang masuk ke aplikasi myBCA bukan orang lain," ujar Wani. Selain itu, BCA mulai mengarahkan seluruh notifikasi resmi ke dalam aplikasi myBCA, bukan melalui SMS atau kanal lain yang rentan disusupi. Dengan demikian, komunikasi dengan nasabah menjadi lebih aman dan risiko penipuan bisa ditekan.
Wani juga mengingatkan nasabah untuk tidak pernah memberikan data pribadi atau informasi perbankan jika ada pesan singkat yang memintanya. BCA, menurutnya, tidak pernah meminta data rahasia melalui SMS. Setiap permintaan semacam itu patut dicurigai sebagai upaya penipuan. "Bisa juga pesan lain yang nadanya menakut-nakuti nasabah, bikin cemas sehingga terpancing mengklik link palsu," tambahnya.
Langkah BCA ini menjadi sinyal penting bagi industri perbankan di Indonesia. Dengan semakin masifnya digitalisasi, keamanan siber bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama kepercayaan nasabah. Ke depan, kolaborasi antara bank, regulator, dan nasabah akan menjadi kunci untuk menekan angka cyber fraud yang masih tinggi.



