Studi Ungkap Jalan Kaki 8.500 Langkah per Hari Efektif Cegah Kenaikan Berat Badan Pasca Diet
Baca dalam 60 detik
- Penelitian meta-analisis terhadap 18 studi menemukan bahwa mempertahankan sekitar 8.500 langkah harian membantu menjaga penurunan berat badan hingga 3,28% setelah fase diet.
- Fenomena adaptasi metabolik yang memperlambat metabolisme pasca penurunan berat badan dapat diatasi dengan peningkatan aktivitas fisik secara bertahap.
- Temuan ini memberikan alternatif non-farmakologis bagi pengguna obat GLP-1 yang rentan mengalami kenaikan berat badan kembali setelah penghentian konsumsi.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health mengungkapkan bahwa berjalan kaki sebanyak 8.500 langkah per hari dapat menjadi strategi efektif untuk mempertahankan berat badan ideal setelah menjalani program diet. Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Marwan El Ghoch dari Universitas Modena dan Reggio Emilia, Italia, ini menganalisis data dari 18 uji klinis sebelumnya yang melibatkan partisipan dengan kelebihan berat badan atau obesitas.
Dalam studi tersebut, partisipan yang mengikuti program modifikasi gaya hidup—termasuk rekomendasi diet dan peningkatan aktivitas fisik—berhasil menurunkan berat badan rata-rata 4,39% dari berat awal setelah mencapai sekitar 8.454 langkah per hari. Yang lebih menarik, mereka yang mempertahankan sekitar 8.241 langkah per hari pada fase pemeliharaan mampu mencegah kenaikan kembali hingga 3,28% dari berat yang telah hilang. Sebaliknya, partisipan yang hanya berdiet tanpa peningkatan langkah harian tidak mengalami penurunan berat badan signifikan.
Dr. El Ghoch menjelaskan bahwa setelah fase penurunan berat badan, tubuh mengalami adaptasi metabolik—metabolisme melambat sebagai respons fisiologis terhadap defisit kalori. Kondisi ini seringkali memicu kembalinya kebiasaan lama seperti makan berlebihan dan gaya hidup sedentari. "Meningkatkan aktivitas fisik dalam bentuk langkah harian dapat membantu mengatasi adaptasi metabolik dan mencegah kekambuhan perilaku tidak sehat," ujarnya.
"Program modifikasi gaya hidup harus selalu dianggap sebagai intervensi lini pertama yang valid, karena mampu menghasilkan penurunan berat badan klinis sekitar 4–5% dan pemeliharaan sekitar 3,5%," tegas Dr. El Ghoch.
Temuan ini menjadi relevan di tengah maraknya penggunaan obat golongan GLP-1 agonis seperti Wegovy dan Zepbound. Studi sebelumnya mencatat bahwa pengguna obat tersebut yang berhenti mengonsumsinya dapat kembali mengalami kenaikan berat badan hingga 60% dalam satu tahun. Dr. Swapnil Patel dari Hackensack Meridian Jersey Shore University Medical Center menilai bahwa pendekatan non-farmakologis seperti peningkatan langkah harian memberikan opsi yang sederhana dan dapat ditindaklanjuti oleh pasien. "Penelitian ini memperkuat pentingnya pendekatan gaya hidup komprehensif yang menggabungkan diet sehat dan aktivitas fisik untuk kesuksesan jangka panjang," katanya.
Sementara itu, Dr. Mir Ali, ahli bedah bariatrik dari MemorialCare Surgical Weight Loss Center, menekankan bahwa konsistensi lebih penting daripada angka absolut. "Jika tidak bisa mencapai 8.500 langkah, usahakan setidaknya 30 menit olahraga setiap hari, dan bisa dibagi dalam beberapa sesi," sarannya. Ia juga mengingatkan bahwa olahraga teratur membantu mempertahankan massa otot yang sering berkurang selama proses penurunan berat badan.
Ke depan, para peneliti berharap temuan ini dapat diintegrasikan ke dalam panduan klinis untuk manajemen berat badan, terutama bagi pasien yang rentan terhadap efek yo-yo pasca diet. Dengan pendekatan yang terukur dan mudah diadopsi, target 8.500 langkah per hari bisa menjadi resep sederhana namun ampuh dalam melawan epidemi obesitas global.



