250 Tahun Kemerdekaan AS: Warga Inggris Kini Tak Bisa Bicarakan Amerika Tanpa Menyebut Trump
Baca dalam 60 detik
- Mayoritas warga Inggris mengaitkan persepsi mereka terhadap Amerika Serikat secara langsung dengan sosok Presiden Donald Trump, bahkan ketika ditanya secara netral tentang negara tersebut.
- Survei Gallup dan Pew Research Center menunjukkan penurunan drastis dukungan terhadap kepemimpinan AS di Inggris, dengan hanya 28% persetujuan pada 2025, sejalan dengan era Trump.
- Hubungan historis AS-Inggris yang diwarnai perang dan aliansi kini menghadapi ujian baru akibat kebijakan kontroversial Trump dan perbedaan pandangan soal demokrasi.

LONDON — Ketika warga Inggris diminta pendapatnya tentang Amerika Serikat di tahun peringatan 250 tahun kemerdekaannya, jawaban yang muncul justru lebih banyak berkaitan dengan satu figur: Donald Trump. Sebuah jajak pendapat dan wawancara mendalam yang dilakukan Associated Press sepanjang 2025 hingga awal 2026 mengungkapkan bahwa persepsi terhadap Negeri Paman Sam kini nyaris tidak bisa dipisahkan dari presiden ke-47 tersebut.
Mark Keightley, seorang teknisi printer dari Cambridge, dengan lugas menyatakan, “Ini dunia Trump, bukan?” Pernyataan serupa terdengar dari berbagai kalangan, mulai dari warga Skotlandia hingga London. Eddie Boyle dari Falkirk, Skotlandia, menyesalkan bahwa opini pribadinya tentang Amerika kini sepenuhnya ditentukan oleh sang presiden. “Sayang sekali hubungan panjang antara kedua negara ini menjadi ternoda,” ujarnya saat ditemui di Westminster Bridge.
Fenomena kekecewaan terhadap Amerika sebenarnya bukan hal baru. Charles Dickens, saat mengunjungi AS pada 1842, sudah mengeluhkan praktik perbudakan yang masih berlangsung dan kebebasan pers yang menurutnya kacau. Namun, kekinian Trump menjadi titik fokus yang menyatukan berbagai kritik. Banyak warga Inggris mengakui kualitas positif Amerika—ambisi, kekayaan, kekuatan militer, serta kontribusi budaya pop—namun di sisi lain, kekerasan senjata, penindakan imigrasi yang keras, dan figur Trump sendiri menjadi teka-teki besar.
“Bagaimana bisa orang seperti itu menjadi presiden?” tanya Mark Gibson di sebuah pub di Washington, dekat kampung halaman George Washington. Ia memahami pemilihan presiden sebelumnya, tetapi Trump dengan kebangkrutan dan masalah hukumnya sulit diterima. Namun, ia menambahkan, “Sepertinya itulah yang diinginkan rakyat. Mereka memilihnya dua kali.”
Hubungan AS-Inggris sendiri telah melalui berbagai pasang surut. Dari Perang 1812 yang berakhir imbang, kerja sama Perang Dunia II, hingga aliansi Reagan-Thatcher yang mengakhiri Perang Dingin. Namun, invasi Irak 2003 dan kini kebijakan Trump—termasuk ancaman menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 serta ketegangan dengan Perdana Menteri Keir Starmer—kembali menguji ikatan tersebut. Kunjungan kenegaraan Raja Charles III ke Washington dan undangan balasan ke Windsor Castle sempat meredakan ketegangan, meskipun komentar raja tentang checks and balances dianggap sebagai kritik tersirat terhadap Trump.
Ke depan, persepsi warga Inggris terhadap Amerika kemungkinan akan terus dipengaruhi oleh arah kebijakan Trump dan bagaimana AS menjalankan demokrasinya. Seperti kata Maria Miston dari Suffolk, “Kita hanya mundur sejak saat itu.”



