Usyk Tampil dengan Bobot Terberat di Kariernya, Hadapi Petarung Kickboxing Verhoeven
Baca dalam 60 detik
- Oleksandr Usyk memasuki arena dengan bobot 106 kg, rekor tertinggi dalam karier profesionalnya, namun masih terpaut 11 kg lebih ringan dari Rico Verhoeven.
- Laga di kaki Piramida Giza ini mempertaruhkan sabuk WBC, WBA super, dan IBF Usyk, meski Verhoeven hanya bisa merebut sabuk IBF jika menang.
- Analis menilai penambahan bobot Usyk tidak akan mengubah gaya bertarungnya yang lincah dan teknis, sementara Verhoeven harus disiplin memanfaatkan keunggulan jangkauan.

Oleksandr Usyk, juara dunia kelas berat yang tak terkalahkan dalam 24 pertarungan profesional, mencatat bobot terberat dalam kariernya saat resmi ditimbang untuk laga mempertahankan gelar melawan Rico Verhoeven, Sabtu (23/5) di kaki Piramida Giza, Mesir. Usyk mencapai 106 kilogram (16st 9lb), tujuh pon lebih berat dibanding saat mengalahkan Daniel Dubois musim panas lalu. Namun, ia masih memberikan keunggulan bobot 11 kg kepada Verhoeven yang menimbang 117 kg (18st 7lb).
Pertarungan ini menjadi sorotan karena mempertemukan petinju kelas berat paling disegani saat ini dengan petarung kickboxing yang hanya memiliki satu pertarungan tinju profesional—12 tahun lalu. Meskipun di atas kertas Usyk diunggulkan mutlak, ia menolak meremehkan lawan. “Saya tidak menganggap ini mudah. Ini adalah petarung,” ujar Usyk dalam konferensi pers, menegaskan keseriusannya menghadapi Verhoeven yang dijuluki “berbahaya”.
Usyk (39 tahun) — 106 kg, rekor 24-0 (14 KO).
Verhoeven (37 tahun) — 117 kg, rekor 1-0 (1 KO) di tinju, tetapi tak terkalahkan di kickboxing selama 16 tahun.
Gelar yang dipertaruhkan: WBC, WBA super, dan IBF Usyk. Verhoeven hanya bisa merebut IBF jika menang.
Verhoeven, yang dikenal sebagai raja kickboxing kelas berat, tampil percaya diri. “Saya sangat senang dan percaya diri. Saya sepenuhnya tenggelam dalam dunia tinju,” katanya. Namun, ia enggan membuat prediksi. “Kami tidak akan membuat prediksi. Semoga yang terbaik menang,” tambahnya. Pertarungan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Verhoeven yang selama ini disanksi kemampuannya di ring tinju murni.
Penambahan bobot Usyk memicu spekulasi. Beberapa pihak mengaitkannya dengan strategi untuk menambah kekuatan pukulan dan mengincar kemenangan cepat. Namun, mantan juara kelas menengah super Richie Woodhall menilai perubahan itu tidak signifikan. “Jika ia naik satu setengah stone, itu masalah. Tapi saya tidak yakin ini mengubah cara ia bertinju. Usyk bisa menghadapi gaya apa pun,” ujar Woodhall, yang juga menjadi pundit BBC. Ia menambahkan bahwa Verhoeven yang bertinggi 196 cm harus memanfaatkan keunggulan jangkauan dengan hati-hati, tanpa terlalu agresif.
Di bawah laga utama, petinju Inggris Hamzah Sheeraz (76 kg) akan bertarung melawan Alem Begic untuk memperebutkan gelar kelas menengah super WBO yang lowong. Sementara Jack Catterall (67 kg) akan menghadapi Shakhram Giyasov untuk sabuk WBA regular kelas welter.
Laga Usyk vs Verhoeven menjadi ujian menarik: apakah seorang petarung kickboxing legendaris bisa mengejutkan dunia tinju, ataukah kelas dan pengalaman Usyk akan kembali membuktikan dominasinya. Terlepas dari hasil, pertarungan di lokasi ikonik ini menegaskan daya tarik tinju sebagai tontonan global yang terus melampaui batas tradisional.



