IHSG Ditutup Hijau di Tengah Aksi Jual Asing, Sektor Bahan Baku Jadi Motor Penggerak
Baca dalam 60 detik
- IHSG menguat 1,1% pada Jumat (22/5) meskipun investor asing mencatat net sell Rp340,5 miliar di sesi pertama.
- Sektor bahan baku melesat 3,38% dan saham MDKA menjadi kontributor utama kenaikan indeks, sementara TLKM dan ASII menjadi pemberat.
- CEO Danantara Rosan Roeslani optimistis fundamental BUMN yang solid akan mendorong IHSG dalam jangka menengah-panjang.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan Jumat (22/5/2026) di tengah tekanan jual asing yang masih berlangsung. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks naik 67,11 poin atau 1,10% ke level 6.162,05, dengan rentang perdagangan harian antara 5.966,86 hingga 6.171,97.
Meski indeks berada di zona hijau, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih senilai Rp340,5 miliar di seluruh pasar pada sesi pertama. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi incaran jual asing terbesar. Namun, daya beli domestik yang kuat mampu mengimbangi tekanan tersebut, tercermin dari total transaksi yang mencapai Rp20,01 triliun dengan volume 37,08 miliar saham.
Dari sisi sektoral, data Refinitiv menunjukkan sektor bahan baku menjadi penopang utama IHSG dengan kenaikan 3,38%, disusul sektor industri (2,21%), properti (1,10%), dan konsumer non-primer (1,03%). Sektor utilitas menjadi satu-satunya yang terkoreksi, turun 1,48%. Saham-saham tambang dan energi mendominasi daftar penggerak indeks. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 14,17 poin, diikuti PT Merdeka Gold Resources Tbk (12,38 poin) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 9,76 poin. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga turut mendorong indeks masing-masing 7,84 dan 7,22 poin.
Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG datang dari saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang mengurangi indeks sebesar 8,35 poin, disusul PT Astra International Tbk (ASII) minus 7,98 poin, dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) minus 7,55 poin. Saham TPIA, BREN, dan AMMN juga menjadi pemberat indeks pada hari itu.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan keyakinannya bahwa IHSG akan membaik dalam jangka menengah-panjang. Menurutnya, fundamental saham-saham BUMN masih solid dan menjadi faktor pendorong utama. "BUMN kami seperti bank-bank Himbara kalau kita lihat justru performance-nya meningkat, yield-nya juga di atas 10-11%," ujar Rosan di Jakarta, Jumat (22/5/2026). Pernyataan ini memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar yang menanti stabilitas indeks ke depan.
Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada Jumat lalu menunjukkan resiliensi di tengah arus keluar modal asing. Dukungan dari sektor komoditas dan optimisme terhadap BUMN diperkirakan akan terus menjadi katalis dalam waktu dekat, meskipun tekanan eksternal masih perlu diwaspadai.



