Perjalanan Insomniac Games: Dari Nyaris Bangkrut hingga Jadi Raja Marvel
Baca dalam 60 detik
- Didirikan tahun 1994, studio ini nyaris kolaps setelah game perdana Disruptor gagal secara komersial.
- Kesuksesan Spyro dan Ratchet & Clank mengukuhkan nama Insomniac, namun ambisi independen justru membawa periode kelam dengan sederet proyek gagal.
- Akuisisi Sony pada 2019 dan franchise Spider-Man mengembalikan kejayaan, meski tantangan baru muncul dari serangan ransomware dan kepergian sang pendiri.

Insomniac Games, studio asal California yang kini menjadi salah satu pilar utama Sony Interactive Entertainment, memiliki perjalanan bisnis yang penuh liku. Berdiri di tengah era keemasan platformer 3D, studio ini berhasil bertahan melalui berbagai perubahan industri, mulai dari kebangkitan blockbuster PlayStation hingga eksperimen lintas platform, sebelum akhirnya berlabuh sebagai first-party powerhouse. Namun, di balik gemerlap kesuksesan Marvel's Spider-Man, tersimpan kisah tentang nyaris bangkrut, periode krisis identitas, dan keputusan-keputusan berani yang membentuknya menjadi seperti sekarang.
Didirikan pada 1994 oleh Ted Price bersama Brian Hastings, Alex Hastings, dan Marcus Smith, studio yang awalnya bernama Xtreme Software ini memulai langkah dengan game tembak-menembak bernama Disruptor untuk konsol Panasonic 3DO. Meskipun mendapat pujian kritis, Disruptor gagal secara komersial dan nyaris menenggelamkan studio. Titik balik terjadi ketika Mark Cerny, eksekutif produser Universal Interactive Studios, tertarik pada demo mereka dan menyarankan porting ke PlayStation. Disruptor versi PS1 dirilis pada 1996 dengan sambutan positif, meski penjualan masih rendah. Universal kemudian mendorong Insomniac untuk menciptakan game keluarga yang bisa bersaing dengan Nintendo. Hasilnya adalah Spyro the Dragon (1998), yang langsung menjadi fenomena dan melahirkan dua sekuel sukses.
Setelah kontrak Spyro berakhir, Sony segera mengakuisisi layanan Insomniac. Memasuki era PlayStation 2, studio sempat membatalkan dua proyek petualangan karena kurang antusiasme internal, lalu kembali ke genre platformer dengan Ratchet & Clank (2002). Game ini sukses besar dan menjadi waralaba kedua yang mengukuhkan reputasi Insomniac. Tiga sekuel dirilis berturut-turut hingga 2004, dengan Ratchet & Clank 3 menjadi game dengan rating tertinggi dalam seri tersebut. Studio kemudian berekspansi ke genre tembak-menembak lewat Resistance: Fall of Man (2006) yang menjadi salah satu game peluncur PS3 dan meraih sukses komersial.
Puncak produktivitas justru memicu keinginan untuk mandiri. Insomniac ingin lepas dari citra "studio maskot PlayStation" dan mulai menjajaki kerja sama dengan penerbit lain. Sayangnya, langkah ini justru membawa periode kelam. Kemitraan dengan Electronic Arts melahirkan Fuse (2013) yang gagal total. Ekspansi ke game mobile lewat divisi Insomniac Click juga tidak membuahkan hasil. Bahkan, game eksklusif Xbox Sunset Overdrive (2014) yang secara kreatif dianggap sangat "Insomniac" tidak mampu menjadi fenomena karena basis pengguna Xbox One yang kecil. Antara 2011 dan 2017, studio seperti kehilangan arah dengan portofolio yang tersebar di berbagai platform dan genre.
Satu-satunya titik terang di periode itu adalah remake Ratchet & Clank (2016) yang terjual jutaan kopi. Kesuksesan ini membuka jalan bagi proyek ambisius berikutnya: Marvel's Spider-Man. Dirilis September 2018, game ini menjadi salah satu comeback terbesar dalam sejarah industri. Sony pun segera mengakuisisi Insomniac pada 2019, mengamankan aset berharga untuk jajaran first-party. Waralaba Spider-Man terus berkembang dengan Miles Morales (2020) dan Spider-Man 2 (2023), sementara Ratchet & Clank: Rift Apart (2021) juga menuai pujian.
Namun, tahun 2023 menjadi ujian baru. Insomniac menjadi korban serangan ransomware oleh kelompok Rhysida yang menuntut tebusan US$2 juta. Saat tebusan tidak dibayar, lebih dari 1,6 TB data internal bocor ke publik, termasuk jadwal rilis game hingga 2030. Bocoran tersebut mengungkap rencana Marvel's Venom (2025), Spider-Man: The Great Web (dibatalkan), Spider-Man 3 (2028), Ratchet & Clank baru (2029), dan Marvel's X-Men (2030). Informasi ini tentu perlu diverifikasi lebih lanjut.
Pada 2025, pendiri Ted Price mengumumkan pensiun, menandai akhir era. Kini, fokus utama studio adalah Marvel's Wolverine, yang diharapkan membuktikan bahwa Insomniac mampu menghadirkan nada lebih gelap dan dewasa di luar Spider-Man. Pertanyaan besarnya: apakah spesialisasi pada properti Marvel akan membatasi kreativitas studio, atau justru menjadi fondasi untuk ekspansi ke waralaba baru? Hanya waktu yang bisa menjawab.


