Klarifikasi Polisi: Luka Model Ansy Jan De Vries Akibat Bisul, Bukan Begal
Baca dalam 60 detik
- Hasil visum memastikan luka di tubuh Ansy Jan De Vries disebabkan bisul pecah, bukan akibat aksi kriminal.
- Polda Metro Jaya memanggil Ansy untuk klarifikasi terkait motif penyebaran narasi palsu menjadi korban begal.
- Polisi mengimbau masyarakat tidak mudah percaya informasi viral tanpa verifikasi dan akan menindak tegas penyebar hoaks.

Polda Metro Jaya memastikan bahwa luka yang dialami model Ansy Jan De Vries bukan berasal dari aksi pembegalan, melainkan akibat pecahnya bisul. Kepastian ini diperoleh setelah tim dokter kepolisian melakukan visum et repertum terhadap luka yang bersangkutan.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan medis menunjukkan luka tersebut adalah bisul yang meletus. "Kami ulangi kembali, luka tersebut adalah bisul yang meletus. Jadi bukan karena bacokan pelaku begal," tegas Budi dalam keterangannya, Jumat (22/5). Pernyataan ini sekaligus membantah kabar yang sebelumnya viral di media sosial.
Penyidik Direktorat Siber Polda Metro Jaya telah memanggil Ansy pada Kamis (22/5) untuk dimintai klarifikasi. Langkah ini diambil guna mendalami motif di balik pengakuan yang bersangkutan sebagai korban begal. "Dilakukan undangan klarifikasi dari Direktorat Siber Polda Metro Jaya untuk mendalami apa motif dari yang bersangkutan," ujar Budi.
Sebelumnya, beredar informasi bahwa Ansy menjadi korban begal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan harus menjalani perawatan di RS Sumber Waras. Namun, setelah penyelidikan, polisi memastikan bahwa Ansy bukanlah korban tindak pidana. "Kami tegaskan bahwa yang bersangkutan bukanlah menjadi korban begal ataupun tindakan kriminal lainnya," tegas Budi.
Polisi juga telah berkoordinasi dengan pihak RS Sumber Waras untuk mengonfirmasi kebenaran informasi perawatan. Hasilnya, Ansy tidak tercatat pernah dirawat di rumah sakit tersebut. Dari pendalaman penyidik, motif penyebaran narasi palsu ini terungkap. "Apa motifnya, yang pertama karena iseng, yang kedua ingin mengglorifikasikan bahwa beberapa kejadian viral tentang begal," jelas Budi.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarluaskannya di media sosial. Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan tidak mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya. Tindakan hukum terhadap penyebar hoaks akan terus ditegakkan untuk menjaga ketertiban dan keamanan publik.


