Kunjungan Perdana Menteri Pakistan ke China: Strategi Menyeimbangkan Kekuatan Global di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif akan berkunjung ke China pada 23-25 Mei 2025, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
- Kunjungan ini menjadi ajang bagi Islamabad untuk memperkuat kerja sama ekonomi melalui CPEC sekaligus memainkan peran sebagai mediator antara AS dan Iran.
- Stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan jalur energi Selat Hormuz menjadi isu krusial yang turut dibahas dalam pertemuan bilateral tersebut.

Pakistan kembali menunjukkan dinamika diplomasinya di tengah panggung global. Perdana Menteri Shehbaz Sharif dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke China pada akhir pekan ini, sebuah langkah yang dinilai para pengamat sebagai upaya Islamabad untuk memperkuat hubungan dengan Beijing sambil tetap menjaga keseimbangan dengan Amerika Serikat dan Iran.
Kunjungan yang berlangsung dari 23 hingga 25 Mei 2025 ini memiliki bobot diplomatik yang lebih dari sekadar hubungan bilateral. Pasalnya, momen ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi China. Para analis menilai bahwa waktu kunjungan Sharif mencerminkan strategi Pakistan untuk meningkatkan profil diplomatiknya di tengah persaingan kekuatan besar.
Salah satu agenda utama adalah meninjau perkembangan Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC), proyek andalan di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI). Proyek senilai miliaran dolar ini menghubungkan Xinjiang di China barat laut dengan Pelabuhan Gwadar di Pakistan melalui jaringan jalan, rel kereta, dan proyek energi. Dukungan finansial China, termasuk perpanjangan utang dan investasi baru, dinilai penting bagi Pakistan yang masih bergantung pada program talangan Dana Moneter Internasional (IMF) pasca krisis keuangan.
Selain ekonomi, isu geopolitik kawasan Timur Tengah juga menjadi sorotan. Pakistan dan China sama-sama menyerukan de-eskalasi di Timur Tengah, terutama terkait ketegangan yang melibatkan Iran. Islamabad bahkan mulai memposisikan diri sebagai mediator antara AS dan Iran. Mantan duta besar Pakistan untuk Malaysia, Shahid Kiani, menyatakan bahwa tahun ini sangat penting bagi hubungan Pakistan-China, terutama dalam konteks peran mediasi yang dimainkan Pakistan.
“Ini adalah tahun yang sangat penting bagi hubungan Pakistan-China, dan dalam konteks peran mediasi yang dimainkan Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran. Jadi, kita harus mengharapkan sesuatu yang sangat penting,” ujar Shahid Kiani.
Pada Maret lalu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar telah mengunjungi Beijing dan bersama China mengusulkan inisiatif lima poin untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di Teluk dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas. Ketergantungan kedua negara pada jalur energi Selat Hormuz membuat stabilitas kawasan menjadi krusial. Gangguan berkepanjangan di selat tersebut dapat memberikan tekanan tambahan pada ekonomi Pakistan yang masih rapuh.
Mantan Sekretaris Luar Negeri Tambahan Pakistan untuk Timur Tengah, Naela Chohan, menegaskan bahwa kerja sama kedua negara tetap kuat. Ia menekankan perlunya meninjau implementasi perjanjian CPEC agar lebih optimal. “Pakistan dan China telah bekerja sama, dan China selalu sangat mendukung Pakistan. Dan saat ini, saya pikir pemerintah harus meninjau implementasi perjanjian-perjanjian itu dan bagaimana kami bisa membuatnya lebih baik,” kata Chohan.
Ke depan, kunjungan Sharif dipandang sebagai langkah strategis untuk mengamankan dukungan ekonomi China sambil memperkuat peran Pakistan sebagai jembatan diplomatik di kawasan. Keberhasilan misi ini akan sangat bergantung pada kemampuan Islamabad menyeimbangkan kepentingan para pemangku kepentingan global yang kerap bertolak belakang.



