Membongkar Mitos Seputar PPOK: Fakta Medis yang Perlu Diketahui
Baca dalam 60 detik
- PPOK tidak hanya menyerang perokok; paparan polusi udara, faktor genetik, dan asap rokok pasif juga menjadi pemicu signifikan.
- Olahraga teratur justru direkomendasikan bagi penderita PPOK karena dapat mengurangi frekuensi eksaserbasi dan meningkatkan kualitas hidup.
- Meski belum ada obat yang menyembuhkan total, berbagai terapi seperti bronkodilator, rehabilitasi paru, dan vaksinasi mampu memperlambat progresivitas penyakit.

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan istilah payung untuk sejumlah kondisi pernapasan progresif yang menyebabkan kesulitan bernapas. Dua bentuk paling umum adalah bronkitis kronis dan emfisema. Gejala utamanya meliputi sesak napas dan batuk kronis, yang seiring waktu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari seperti berpakaian.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PPOK menyebabkan 3,23 juta kematian pada 2019 dan menjadi penyebab kematian ketiga di dunia. Di Amerika Serikat, penyakit ini menempati peringkat keempat penyebab kematian dengan lebih dari 16 juta pasien terdiagnosis. Namun, jutaan lainnya diperkirakan belum terdiagnosis.
Banyak mitos beredar di masyarakat tentang PPOK. Untuk meluruskannya, LyndHub menghimpun penjelasan dari dua pakar: Dr. Neil Schachter, profesor kedokteran paru di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, dan Dr. Shahryar Yadegar, spesialis perawatan kritis dan pulmonologi di Providence Cedars-Sinai Tarzana Medical Center.
Salah satu mitos yang paling umum adalah bahwa PPOK hanya menyerang perokok. Faktanya, Dr. Schachter menegaskan bahwa ada banyak faktor risiko lain, termasuk polusi udara, polusi pekerjaan, infeksi, dan beberapa bentuk asma. Dr. Yadegar menambahkan bahwa sebagian pasien yang tidak pernah merokok memiliki riwayat paparan asap rokok pasif, predisposisi genetik (defisiensi alfa-1 antitripsin), atau paparan polusi udara yang signifikan.
Mitos lain yang perlu diluruskan adalah bahwa penderita PPOK tidak boleh berolahraga. Justru sebaliknya, olahraga teratur bersifat terapeutik. Dr. Schachter menyatakan bahwa olahraga dapat mengurangi jumlah eksaserbasi dan meningkatkan kualitas hidup. Program rehabilitasi paru biasanya menggabungkan teknik pernapasan terbimbing dengan latihan fisik untuk hasil optimal.
Banyak orang juga percaya bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki perjalanan penyakit PPOK. Ini keliru. Dr. Schachter menjelaskan bahwa ada banyak terapi dan strategi yang tersedia, termasuk obat-obatan, rehabilitasi, diet, dan vaksin untuk melindungi dari infeksi pernapasan yang mempercepat progresivitas. Dr. Yadegar menambahkan bahwa pasien dapat memperoleh manfaat dari bronkodilator inhalasi, antikolinergik, kortikosteroid, oksigen tambahan, bahkan transplantasi paru pada kasus tertentu.
Perbedaan antara PPOK dan asma juga sering disalahpahami. Dr. Schachter menjelaskan bahwa asma biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan terkait alergi, sedangkan PPOK umumnya muncul pada usia 60-an dan terkait merokok. Namun, ada sindrom tumpang tindih yang memiliki ciri keduanya. Dr. Yadegar merinci bahwa PPOK adalah penyakit alveoli akibat hilangnya elastisitas karena merokok, sementara asma adalah penyakit saluran napas akibat inflamasi kronis.
Mengenai berat badan, mitos bahwa penderita PPOK harus kurus tidak benar. Dr. Schachter menyatakan bahwa kelebihan berat badan justru dapat meningkatkan disabilitas, sementara berat badan di bawah normal bisa menjadi tanda emfisema dan prognosis buruk. Selain itu, berhenti merokok tetap bermanfaat kapan pun, karena merokok mempercepat penurunan fungsi paru dan memicu eksaserbasi.
Gejala PPOK tidak terbatas pada sesak napas. Batuk, produksi dahak berlebih, infeksi pernapasan, serta gejala komorbiditas seperti gangguan tidur, kecemasan, depresi, nyeri, dan penurunan kognitif juga sering terjadi. Pola makan sehat juga berperan penting; sebuah meta-analisis tahun 2020 menunjukkan bahwa pola makan sehat dikaitkan dengan prevalensi PPOK yang lebih rendah.
Meskipun belum ada obat yang menyembuhkan PPOK sepenuhnya, kombinasi terapi medis dan perubahan gaya hidup dapat secara signifikan mengurangi keparahan gejala dan memperlambat progresivitas penyakit. Konsultasi dengan dokter untuk diagnosis dini melalui spirometri sangat dianjurkan bagi mereka yang mengalami gejala kronis.



