BI Bantah Pelemahan Rupiah Saat Ini Setara Krisis 1998, Ini Alasannya
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menegaskan depresiasi rupiah ke Rp 17.700 per dolar AS hanya 5,5% year-to-date, jauh berbeda dari tekanan 639% saat krisis 1998.
- Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menyebut fokus kebijakan saat ini adalah stabilitas nilai tukar, bukan level absolut, melalui bauran instrumen moneter dan makroprudensial.
- Meski level nominal mendekati titik terendah historis, disparitas pelemahan yang rendah menunjukkan fundamental ekonomi lebih solid dibanding era 1997-1998.

Bank Indonesia (BI) angkat bicara di tengah kekhawatiran publik atas pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat. Otoritas moneter menegaskan bahwa kondisi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1997-1998, meskipun secara nominal nilai tukar berada di kisaran yang sama.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah sejak awal tahun hanya mencapai 5,5% secara point-to-point. Posisi rupiah pada awal 2026 tercatat di Rp 16.680-an, sehingga pergerakan ke Rp 17.700 merupakan fluktuasi yang relatif terkendali. "Kita harus melihat persentase pelemahannya, bukan sekadar angka absolut," ujarnya dalam acara Jogjakarta Financial Festival, Jumat (21/5/2026).
Sebagai perbandingan, pada puncak krisis 1998 rupiah mengalami tekanan luar biasa dengan volatilitas mencapai 639%βdari Rp 2.300 per dolar AS merosot ke Rp 17.000 dalam waktu singkat. "Itu terjadi secara tiba-tiba dan mendadak. Inilah yang kami jaga agar tidak terulang," tegas Aida.
- Depresiasi rupiah 2026: 5,5% (point-to-point)
- Level terendah: Rp 17.700/US$
- Depresiasi krisis 1998: 639%
- Level awal krisis: Rp 2.300/US$ β Rp 17.000/US$
Sumber: Bank Indonesia
Meski demikian, Aida menekankan bahwa BI tidak tinggal diam. Pihaknya telah mengaktifkan bauran kebijakan yang mencakup instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Langkah-langkah tersebut diibaratkan sebagai "jamu pahit" seperti kenaikan suku bunga acuan, dan "jamu manis" berupa kebijakan yang menjaga kecukupan likuiditas. "Kami memastikan stabilitas nilai tukar, bukan levelnya. Stabilitas itu yang penting," jelasnya.
Pernyataan BI ini diharapkan meredam spekulasi pasar yang mulai membandingkan situasi saat ini dengan krisis 1998. Dari sisi fundamental, cadangan devisa Indonesia masih solid, inflasi terkendali, dan sektor perbankan jauh lebih kuat. Namun, tekanan eksternal dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian global tetap menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Ke depan, BI akan terus memonitor pergerakan rupiah dan siap melakukan intervensi jika diperlukan. Pelaku pasar disarankan untuk tidak panik dan tetap mencermati data ekonomi domestik serta kebijakan bank sentral global. Stabilitas makroekonomi menjadi prioritas utama untuk menjaga kepercayaan investor dan kelancaran aktivitas ekonomi nasional.



