Hamilton Menangis saat Arsenal Juara, Pembalap F1 Beralih ke Sepak Bola di GP Kanada
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton mengaku meneteskan air mata saat Arsenal mengakhiri puasa gelar Premier League setelah 22 tahun, mengenang masa kecilnya di Stevenage.
- Pierre Gasly, penggemar PSG, menantikan duel Arsenal vs PSG di Liga Champions, sementara Sergio Perez berencana terbang ke Meksiko untuk Piala Dunia.
- Kimi Antonelli, meski Italia absen, mendukung Brasil dan Messi, menunjukkan sepak bola menjadi top hangat di paddock F1.
Suasana paddock F1 di Grand Prix Kanada berubah hangat ketika para pembalap saling berbagi cerita tentang sepak bola, dipicu oleh keberhasilan Arsenal meraih gelar Premier League setelah penantian panjang 22 tahun. Lewis Hamilton, penggemar setia Arsenal, mengakui bahwa momen tersebut membawanya hingga menitikkan air mata.
Pembalap Ferrari itu menceritakan bahwa kenangan masa kecilnya di Stevenage langsung muncul saat Arsenal dipastikan juara setelah Manchester City bermain imbang 1-1 melawan Bournemouth. “Saya ingat saat berusia lima tahun, bermain bola di sudut jalan Stevenage. Satu-satunya anak kulit hitam di sana, dan semua orang mendukung West Ham, Tottenham, atau Manchester United,” ujar Hamilton. Ia menambahkan bahwa kakak perempuannya pernah mendorongnya untuk memilih Arsenal, dan mereka masih tertawa mengingatnya.
Pierre Gasly dari Alpine, yang dikenal sebagai pendukung Paris Saint-Germain, langsung merespons dengan nada bercanda. “Senang akhirnya kita bicara soal hal yang nyata,” katanya. Gasly menantikan pertandingan Liga Champions antara Arsenal dan PSG, dan berharap timnya bisa meraih gelar kedua di kompetisi tersebut. PSG sendiri baru saja mengamankan gelar Ligue 1 kelima berturut-turut.
Sementara itu, Sergio Perez dari Cadillac memiliki misi berbeda. Pembalap asal Meksiko itu bertekad untuk terbang pulang dari Eropa di tengah musim demi menyaksikan tim nasionalnya berlaga di Piala Dunia yang akan digelar di Guadalajara. “Saya harus pulang hanya untuk pertandingan itu, lalu kembali ke Eropa. Kami pasti akan mewujudkannya,” ujar Perez dengan optimisme hati-hati.
Kimi Antonelli, pemimpin klasemen kejuaraan, mengaku belum menentukan pilihan dukungan karena Italia tidak lolos. Namun, ia menyimpan rasa simpati kepada Brasil dan Lionel Messi. “Saya sangat suka Brasil, cara mereka bermain. Tapi saya juga mendukung Messi, salah satu pemain favorit saya sejak kecil. Saya bahkan sempat bertemu dengannya di Miami,” kata pembalap Mercedes itu. Ia menyebut absennya Italia sebagai bencana, namun menerimanya dengan lapang dada.
Percakapan sepak bola di paddock ini menegaskan bahwa di balik kecepatan dan teknologi F1, para pembalap tetaplah penggemar olahraga lain yang tidak kalah bergairah. Momen seperti ini juga memperlihatkan sisi personal yang jarang terlihat, memperkaya narasi Grand Prix akhir pekan ini.



