IHSG Rebound 1% di Akhir Sesi, Sentimen MSCI dan Kebijakan Ekspor Masih Bayangi
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan berhasil membalikkan posisi dari terendah harian 5.966 ke level 6.167, didorong aksi beli menjelang penutupan.
- Tekanan jual dari rebalancing MSCI dan pelemahan rupiah masih menjadi beban, membuat IHSG tertinggal dari bursa Asia lainnya.
- Peringatan S&P dan Moodyβs soal sentralisasi ekspor melalui Danantara menambah ketidakpastian bagi investor global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan arah pada perdagangan Jumat (22/5/2026) dan ditutup menguat 1,19% ke level 6.167,25 setelah sempat terperosok ke bawah level psikologis 6.000 di awal sesi. Aksi beli agresif di menit-menit akhir mendorong indeks menyentuh level tertinggi harian di 6.171,97.
Data transaksi menunjukkan nilai perdagangan mencapai Rp18,58 triliun dengan volume 35,46 miliar saham dan frekuensi 1,89 juta kali. Sebanyak 441 saham berhasil menguat, sementara 288 saham melemah dan 230 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp10.633 triliun.
Analis MNC Sekuritas, Herditya, menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam tren pelemahan. Tekanan utama berasal dari hasil rebalancing MSCI yang menyebabkan saham-saham berkapitalisasi besar ditinggalkan investor. Senada, Analis Doo Financial Lukman Leong menambahkan bahwa efek rebalancing masih terasa dan memicu tekanan jual dari investor global. Pelemahan rupiah turut memperkuat sikap hati-hati investor asing terhadap aset Indonesia.
Di sisi lain, investor juga mencermati wacana pemerintah untuk melakukan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan ketidakpastian regulasi dan kontrol negara terhadap sektor swasta. Lembaga pemeringkat global pun angkat bicara.
S&P Global Ratings memperingatkan bahwa sentralisasi ekspor dapat menimbulkan risiko terhadap ekspor, penerimaan negara, dan neraca pembayaran Indonesia. "Faktor-faktor ini menciptakan ketidakpastian penurunan yang lebih besar terhadap peringkat Indonesia," tulis S&P dalam laporan yang dikutip Reuters. S&P juga menilai investasi dapat terdampak jika perubahan aturan menurunkan kepercayaan dunia usaha.
Sementara itu, Moody's menilai rencana tersebut berpotensi mendukung aliran devisa masuk, namun juga meningkatkan risiko distorsi pasar dan membebani sentimen investor. Pasar masih menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai implementasi kebijakan ini.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan regulasi ekspor dan aliran modal asing. Jika ketidakpastian kebijakan dapat diminimalkan, potensi pemulihan indeks masih terbuka lebar.



