IHSG Kembali Terjun Bebas ke 6.249, Investor Wait and See Jelang RDG BI
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melemah 1,92% ke 6.249,26 setelah sempat melonjak 1% jelang pidato Presiden, mencerminkan volatilitas tinggi di pasar saham.
- Tekanan jual meluas dengan 532 saham terkoreksi, sementara volume transaksi mencapai 18,54 miliar lembar saham senilai Rp10,26 triliun.
- Pelaku pasar menanti keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia siang ini, yang diperkirakan akan mempengaruhi arah rupiah dan sentimen investasi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (20/5/2026), ditutup melemah 1,92% ke level 6.249,26. Pergerakan indeks sepanjang hari menunjukkan volatilitas tinggi, sempat melesat naik 1% ke 6.430,97 jelang pidato Presiden Prabowo Subianto di Gedung DPR, namun kemudian berbalik arah dan longsor hingga nyaris 2%.
Data perdagangan mencatat sebanyak 532 saham berada di zona merah, sementara hanya 167 saham yang berhasil menguat dan 260 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 18,54 miliar lembar saham dengan nilai Rp10,26 triliun dan frekuensi 1,25 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat menciut menjadi Rp11.079 triliun, menunjukkan aksi jual yang masif dari investor.
Sebelumnya, pada sesi awal, IHSG dibuka melemah 0,29% di level 6.352,20, lalu langsung ambles hingga 1,35% dalam waktu singkat. Saham-saham dengan volume transaksi terbesar pagi ini antara lain BBCA, ASPR, BBRI, BUMI, dan TPIA. Lonjakan sesaat terjadi setelah pidato Presiden, namun sentimen negatif kembali mendominasi.
Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan siang ini. Keputusan suku bunga menjadi krusial di tengah tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar keuangan domestik. Ekspektasi pasar cukup beragam, dengan sebagian investor mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan untuk menahan pelemahan rupiah.
Analis menilai bahwa volatilitas IHSG mencerminkan ketidakpastian investor terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal ke depan. Pidato Presiden yang optimistis sempat memicu reli singkat, namun kekhawatiran terhadap fundamental ekonomi masih membayangi. Tekanan eksternal dari pergerakan dolar AS dan ekspektasi suku bunga global turut memperberat sentimen.
Ke depan, hasil RDG BI akan menjadi penentu utama pergerakan pasar dalam beberapa hari ke depan. Jika BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga, hal itu dapat memberikan stabilitas jangka pendek bagi rupiah, namun berpotensi menekan lebih lanjut sektor properti dan konsumsi. Sebaliknya, jika suku bunga dipertahankan, investor mungkin akan mencari kepastian lebih lanjut dari kebijakan fiskal pemerintah.



