Waspada YOLO dan FOMO: OJK Peringatkan Bahaya Finansial yang Mengintai Generasi Muda
Baca dalam 60 detik
- Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi menyoroti tiga fenomena sosial—YOLO, FOMO, dan FOPO—yang dinilai berbahaya bagi kesehatan finansial anak muda.
- Tekanan sosial dan kemudahan akses digital mendorong generasi muda terjebak dalam konsumsi berlebihan, judi online, dan pinjaman konsumtif.
- OJK mengingatkan bahwa digitalisasi membawa risiko siber, di mana korban justru secara sukarela memberikan data sensitif seperti password OTP.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tiga fenomena sosial yang kini marak menjangkiti generasi muda: YOLO (You Only Live Once), FOMO (Fear of Missing Out), dan FOPO (Fear of Other People's Opinions). Dalam pidatonya di Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026), ia menekankan bahwa pola pikir ini dapat menjerumuskan anak muda ke dalam masalah keuangan yang serius.
Menurut Friderica, tekanan sosial di kalangan remaja sangat kuat sehingga mendorong mereka untuk mengikuti standar konsumsi teman sebaya. Contohnya, ketika ponsel atau pakaian dianggap ketinggalan zaman, mereka cenderung mencari cara cepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut tanpa perencanaan keuangan yang matang. Fenomena ini diperparah oleh istilah quick money, di mana anak muda enggan belajar literasi keuangan dan lebih memilih jalan pintas seperti judi online, layanan buy now pay later (BNPL), atau pinjaman online (pinjol) untuk kebutuhan konsumtif.
Friderica juga menyoroti peran digitalisasi dalam mempercepat perubahan perilaku keuangan. Jika dulu transfer uang harus dilakukan di bank dengan antrean panjang, kini semua bisa dilakukan dalam hitungan detik melalui genggaman tangan. Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan ini datang dengan risiko siber yang tidak kalah berbahaya. "Dulu perampok harus menggunakan kekerasan, sekarang korban bisa dengan sukarela memberikan password OTP," ujarnya, menggambarkan betapa rentannya masyarakat terhadap kejahatan digital.
"Hati-hati dengan digitalisasi, kalian berpotensi menjadi korban kehilangan uang tanpa kekerasan. Kalian sendiri yang memberikan aksesnya," tegas Friderica.
Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan OJK ini menjadi pengingat bahwa literasi keuangan dan kesadaran akan risiko digital harus ditingkatkan, terutama di kalangan generasi muda yang paling akrab dengan teknologi. Tanpa pemahaman yang memadai, kemudahan akses finansial justru bisa menjadi bumerang yang menghancurkan masa depan ekonomi mereka.



