Iran Gali Celah Geografis: Usul Pungut Biaya Kabel Bawah Laut di Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Iran mengusulkan pungutan pada kabel bawah laut di Selat Hormuz, memperluas strategi sewa geografis dari minyak ke infrastruktur digital.
- Usulan ini mengeksploitasi kerentanan fisik jaringan data global, dengan menargetkan titik lemah di perairan teritorial yang sulit diamankan.
- Jika diterapkan, kebijakan ini berpotensi mengubah lanskap geopolitik digital, memaksa perusahaan teknologi membayar 'biaya stabilitas' untuk akses data.
Iran kembali menguji batas geostrategi global dengan wacana pengenaan biaya terhadap kabel bawah laut yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini, meskipun belum menjadi kebijakan resmi, mencerminkan ambisi Teheran untuk memonetisasi posisi geografisnya di luar sektor energi tradisional.
Dalam analisis yang dimuat Project Syndicate, Profesor Ilmu Politik Universitas Toronto, Carla Norrlöf, menyoroti bahwa Iran tengah memperluas logika 'rentier' dari minyak ke infrastruktur digital. Setelah sebelumnya memungut biaya dari kapal tanker yang melintasi selat sempit itu, kini kabel bawah laut yang membawa lalu lintas data global menjadi sasaran baru. Ini bukan sekadar ancaman gangguan, melainkan upaya sistematis menjadikan geografi sebagai aset penghasil pendapatan.
Usulan ini menyasar langsung perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat—Amazon, Google, Meta, dan Microsoft—yang bergantung pada konektivitas bawah laut untuk layanan cloud dan pusat data. Norrlöf menekankan bahwa Iran tidak perlu memutus aliran data sepenuhnya; cukup menciptakan ketidakpastian yang cukup untuk membuat prediktabilitas menjadi barang mahal. Ini adalah bentuk baru kekuatan koersif yang berbeda dari model abad ke-20 yang bertumpu pada kepemilikan sumber daya alam.
Dari sisi respons, pemerintahan Trump diperkirakan akan berupaya menggagalkan klaim pungutan tersebut sebelum mendapat legitimasi. Langkah-langkah seperti memperluas rute kabel alternatif, menambah titik pendaratan, dan memperkuat kapasitas perbaikan menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur rawan. Tujuannya bukan hanya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi juga membuat ketidakstabilan menjadi tidak menguntungkan.
Meskipun proposal ini mungkin tidak pernah menjadi kebijakan operasional, ia mengungkapkan strategi jangka panjang Iran: menggunakan geografi untuk memaksa dunia membayar demi menghindari konflik. Di tengah ketidakmampuan menandingi jangkauan militer dan finansial AS, Teheran memilih jalan pintas yang menguntungkan secara ekonomi sekaligus menekan lawan.



