Tom Sturridge Ungkap Metode Unik Sutradara Ira Sachs di Film The Man I Love: Tanpa Latihan, Semua Ditemukan di Depan Kamera
Baca dalam 60 detik
- Tom Sturridge mengaku tidak menjalani latihan sama sekali untuk perannya di film The Man I Love karena metode kerja sutradara Ira Sachs yang menolak diskusi naskah sebelum syuting.
- Sachs lebih mengandalkan bahan referensi seperti film, literatur, dan foto untuk persiapan, sementara adegan ditemukan secara spontan di depan kamera.
- Kedekatan Sturridge dengan Rami Malek di luar layar membantu membangun chemistry tanpa perlu dialog berlebihan, menciptakan intimitas yang natural.

Tom Sturridge, aktor berusia 40 tahun yang dikenal lewat serial The Sandman, mengungkapkan pengalaman uniknya saat membintangi film The Man I Love arahan sutradara Ira Sachs. Dalam wawancara dengan Variety di Festival Film Cannes, Sturridge mengaku tidak mendapat kesempatan untuk berlatih atau mendiskusikan karakternya sebelum syuting dimulai—sebuah pendekatan yang disebutnya sebagai metode kerja paling tidak biasa yang pernah ia temui.
Sturridge memerankan Dennis, kekasih dari seorang pemain teater pengidap AIDS bernama Jimmy George yang diperankan Rami Malek. Menurutnya, Sachs memiliki keengganan ekstrem terhadap latihan atau pembahasan adegan di luar set. “Bahkan saat uji kamera atau penataan lampu, jika saya mengucapkan dialog, ia akan menghentikannya. Ia alergi mendengar naskah sebelum kamera benar-benar berjalan,” ujar Sturridge. Sachs menginginkan setiap momen ditemukan secara organik di depan lensa, tanpa persiapan yang kaku.
Meski tanpa latihan formal, Sturridge dan Malek memiliki keuntungan karena sudah saling kenal sebelumnya. Mereka bertemu di sebuah pub di London begitu tahu akan bekerja sama. “Kami tidak banyak membicarakan film, tetapi mencoba membangun bahasa fisik yang terasa seperti sudah bersama bertahun-tahun,” jelas Sturridge. Ia menambahkan bahwa keintiman dan koneksi diam-diam sulit diciptakan secara instan di lokasi syuting, sehingga menghabiskan waktu bersama tanpa topik film menjadi kunci.
“Kami hanya berusaha nyaman dengan fisik satu sama lain, belajar bagaimana tubuh bergerak, dan memahami cara berkomunikasi tanpa kata-kata yang berlebihan.” — Tom Sturridge
Pendekatan Sachs ini menyoroti tren alternatif dalam industri film yang menentang metode konvensional. Alih-alih latihan intensif, Sachs memilih kejutan dan keaslian yang lahir dari momen tak terduga. Bagi Sturridge, metode tersebut bukanlah sekadar teknik, melainkan bentuk kepercayaan radikal yang menuntut aktor untuk benar-benar hadir dan responsif. Ke depannya, cara kerja seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi sineas yang ingin mengeksplorasi batas antara realitas dan fiksi di atas layar.


