Skandal Kolaborasi: Perwira Militer Mali Diduga Berkomplot dengan Jihadis dalam Gelombang Serangan Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Mali mengungkap bukti keterlibatan sejumlah perwira aktif dan purnawirawan dalam serangan terkoordinasi yang dilancarkan kelompok jihadis dan separatis.
- Serangan yang dimulai pekan lalu telah memaksa mundurnya pasukan Mali dan Rusia dari kota strategis Kidal serta markas militer di Tessalit.
- Situasi kemanusiaan memburuk setelah JNIM memberlakukan blokade total di empat jalur utama menuju Bamako, mengganggu distribusi bahan bakar dan mobilitas warga.

Pemerintah militer Mali untuk pertama kalinya mengakui adanya dugaan kolaborasi antara oknum perwiranya dengan kelompok jihadis dan separatis dalam gelombang serangan yang melanda negeri itu sejak akhir pekan lalu. Pengakuan tersebut disampaikan Jumat malam melalui pernyataan jaksa militer yang dibacakan di televisi nasional, menandai eskalasi krisis keamanan yang belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir.
Jaksa Militer Bamako menyatakan bahwa penyelidikan menemukan bukti kuat yang menunjukkan keterlibatan sejumlah perwira aktif dan yang baru saja diberhentikan dalam perencanaan, koordinasi, dan eksekusi serangan. Tidak hanya itu, penyelidikan juga menyebut nama Oumar Mariko, seorang politikus terkemuka yang kini berada di pengasingan, sebagai salah satu pihak yang turut serta. Temuan ini memicu kekhawatiran akan infiltrasi kelompok militan ke dalam institusi pertahanan negara yang seharusnya menjadi garda terdepan melawan terorisme.
Kolonel Assimi Goita, pemimpin junta Mali, menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga kelompok bersenjata berhasil dilumpuhkan sepenuhnya. Namun, pernyataan tersebut sulit meredam kekhawatiran publik setelah Menteri Pertahanan Sadio Camara tewas dalam salah satu serangan awal pekan ini. Kehilangan seorang menteri pertahanan di medan tempur menjadi pukulan telak bagi rezim yang berkuasa sejak kudeta 2020.
Di sisi lain, kelompok separatis FLA mengklaim telah menguasai kamp militer Tessalit yang terletak di dekat perbatasan Aljazair. Klaim tersebut disampaikan oleh komandan senior FLA, Achafghi Ag Bouhanda, dalam sebuah video yang telah diverifikasi oleh Associated Press. Meskipun otoritas Mali belum memberikan tanggapan resmi, mundurnya pasukan dari posisi strategis itu mengindikasikan lemahnya kendali pemerintah di wilayah utara.
Blokade jalan yang diberlakukan JNIM semakin memperparah situasi. Setelah sebelumnya memblokade sebagian jalur, pekan ini kelompok tersebut mengumumkan blokade total terhadap empat rute utama menuju Bamako. Akibatnya, distribusi bahan bakar terhambat dan sejumlah agen perjalanan terpaksa menghentikan operasi. Warga yang biasa bepergian antara Bamako dan wilayah selatan mengaku perjalanan darat kini menjadi sangat berisiko. "Bepergian melalui jalan darat saat ini adalah sebuah petualangan berbahaya," ujar Aminata Traore, seorang pengguna jalan yang kerap melintasi rute tersebut.
Krisis Mali tidak berdiri sendiri. Negara ini merupakan bagian dari kawasan Sahel yang dikenal sebagai titik panas ekstremisme global. Ekspansi kelompok jihadis di wilayah sekitarnya terus berlangsung, sementara junta militer yang berkuasa justru menghadapi tantangan internal berupa dugaan pengkhianatan dari kalangan sendiri. Ke depan, kemampuan Bamako untuk memulihkan keamanan akan sangat bergantung pada sejauh mana ia mampu membersihkan institusinya dari pengaruh kelompok militan dan mengembalikan kepercayaan publik.



